Yogyakarta, Atmosfer Yang Berbeda

Daya tarik Yogyakarta, siapa yang bisa menolaknya? Suasana Yogyakarta yang hangat memang membuat rindu dan betah bagi siapa saja yang pernah mengunjunginya maupun yang pernah menetap di sana. Yogyakarta dikenal kota perjuangan, kebudayaan, pelajar dan pariwisata. Dengan perkembangan dan pertumbuhan masyarakat dan perekonomiannya, maka kota Yogyakarta merupakan jalur yang biasa dilalui pedagang baik dari timur Jawa maupun dari barat Jawa. Transportasi juga berkembang, salah satunya transportasi darat (bus kopaja, bus Transjogja, sepeda motor, becak motor, delman, mobil dan kereta api).

Bangunan kolonial mempengaruhi sistem budaya, sistem sosial dan sistem teknologi yang ada di Indonesia. Keberadaan bangunan berarsitektur kolonial ini juga  merupakan salah satu konsep perencanaan kota kolonial yang dibangun oleh Hindia Belanda dengan perpaduan model bangunan Belanda dengan teknologi bangunan tropis. Sekilas yang saya amati ketika pergi bersepeda mengelilingi daerah titik nol Yogyakarta, model bangunan berarsitektur kolonial ini memiliki khas, bentuk bangunan pada fasade (sisi luar / bagian depan) seperti model atap, model jendela, model pintu, pengguna gawel, tower, dormer dan sebagainya ini merupakan salah satu elemen-elemen penyusun bangunan yang menjadi simbol yang memiliki makna tersendiri.

Menariknya peninggalan bangunan kolonial sekarang ini selalu ramai menjadi buruan, tidak hanya bagi seorang fotografer atau turis yang sedang berkunjung ke Yogyakarta tetapi kebanyakan anak-anak generasi milineal yang menjadikan bangunan kolonial tersebut sebagai latar belakang foto saja tanpa tahu apa arti bangunan tersebut, sebab mereka hanya melihat sisi estetikanya saja. William Strauss dan Niel Howe, dua pakar sejarah dan penulis Amerika yang menciptakan istilah millenial generation.

Penggolongan generasi terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1980-1990 atau pada awal 2000 dan seterusnya. Dalam laporan perusahaan Ericsson, mencatat produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat millineal, karena terjadi pergeseran perilaku yang turut mengubah dengan teknologi. Salah satu ciri dasar generasi milineal adalah “No Gadget No Life”, gadget saat ini menjadi separuh jiwa mereka. Kemudahan yang ditawarkan serta ditambah dengan akses internet tak terbatas membuat para milenial betah berselancar dengan gadgetnya.

Kereta api dan Bangunan Stasiun Tugu Yogyakarta

Kereta api sudah ada sejak zaman kolonial sebagai angkutan yang paling banyak digunakan untuk bepergian di sekitaran pulau Jawa. Setelah pemerintah Belanda dahulu membangun jalan dan juga membangun jalur kereta api dari Surabaya sampai Jakarta, Kota Yogyakarta tidak pernah terlepas pula dari transit. Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta dibangun oleh Belanda pada tahun 1882 ini sampai sekarang masih bisa dimanfaatkan sebagai stasiun kereta api besar kota Yogyakarta.  Bangunan Induk Stasiun Tugu berupa bangunan memanjang timur-barat dengan 2 peron di sisi utara dan selatan. Bangunan ini terdiri dari ruang kepala, ruang tunggu eksekutif, kantin, rumah makan, kantor PPKA, dan wartel. Berikut di bawah ini foto stasiun Tugu Yogyakarta tampak dari depan pada zaman dahulu.

Secara umum bangunan Stasiun Tugu merupakan struktur dinding tanpa atap dengan bagian atas yang datar (flat). Bangunan dinaungi oleh struktur baja yang menyangga atap dengan tiang-tiang yang terbuat dari baja. Pada peron sisi selatan dan utara terdapat 3 jenis tiang penyangga yang berbeda. Pada tiang lama Stasiun Tugu terdapat inskripsi J.L. Enthoven s’Hage 1886. Bangunan induk ini keseluruhan mempunyai jendela dan pintu berukuran besar. Bukaan/jendela mati pada bagian atas dibuat untuk memecahkan persoalan pencahayaan ruang dalam. Sisi timur merupakan pintu masuk berupa entrance hall dengan fasad bangunan bergaya art deco. Fasad atau bagian depan bangunan yang sekaligus digunakan sebagai pintu masuk utama stasiun menghadap ke arah Timur atau ke arah Jalan Mangkubumi yang merupakan poros kota Yogyakarta.

Selain sebagai sebagai stasiun penumpang, Stasiun Yogyakarta hingga saat ini juga masih berfungsi sebagai tempat perawatan kereta. Fasilitas tersebut terletak di bagian barat stasiun dan sedikit terpisah dari bangunan utama dan penumpang. Sementara itu, PT. KAI (Persero) Yogyakarta juga merasa terpanggil untuk mempercantik kawasan Stasiun Tugu yang masuk dalam wilayah tanggung jawab pengelolaan lahannya.

Hal ini untuk menyesuaikan penampilan yang diupayakan oleh Pemerintah Daerah D.I.Y melalui Pemerintah Kota. Stasiun Besar Yogyakarta atau lebih dikenal dengan Stasiun Tugu menjadi jantung transportasi kereta api di wilayah Jogjakarta. Selain dari sisi bangunannya yang memang sudah antik (heritage), jumlah penumpang yang menggunakan akses stasiun setiap tahun jumlahnya semakin bertambah. Guna meningkatkan pelayanan dan melakukan penyesuaian dengan pembangunan kota.

20150528133222_tugu
Foto: Dokumentasi pribadi Fasmaqullah, 14 Desember 2019 .

Mencoba memakai sudut pandang dari Rudolf Mrazek (2006) menurutnya, arsitektur dan perencanaan kota ini merupakan teknologi untuk menyeberangi samudra. Apa pun perubahan-perubahannya, betapa majunya peralatan seperti zaman-zaman wagu, arsitektur membuat orang memikirkan tentang berada, atau akan bepergian ke suatu tempat lain. Perkembangan pemukiman penduduk kepadatan yang menurut Mrazek merupakan masalah besar di Hindia Belanda. Banyaknya bangunan-bangunan megah berdiri di tengah kota dn bangunan ini diibaratkan sebagai bangunan yang telah berjangkar dan menetap di suatu tempat.

Bangunan Stasiun Tugu yang juga merupakan bangunan buatan manusia, yang terdiri dari atap, dinding, lantai dan sebagainya. Prasarana dalam kebudayaan kehidupan manusia berkaitan dengan kemajuan peradaban manusia, maka dalam perjalanannya bangunan yang sudah terlihat rusak (tidak dapat berfungsi seutuhnya) akan diperbaiki ulang. Apalagi bangunan stasiun tugu Yogyakarta masuk cagar budaya nasional yang dilindungi.

Bagi Generasi Milenial

Persepsi generasi milenial tentang Bangunan Kolonial Stasiun Tugu Yogyakarta, dimaknai dengan peninggalan yang harus dijaga, dirawat, dilestarikan karena merupakan bagian dari sejarah kota dan negeri ini. Semua informan memiliki konsep yang sama tentang hal ini. Anggapan mereka bahwa bangunan kolonial penekanannya pada sejarah, padahal selain sejarah ada sesuatu hal yang bisa diamati, dinilai serta direfleksikan.

Persepsi seperti itu tidak sepenuhnya salah karena memang keterbatasan pengetahuan serta kepekaan mereka membaca fenomena yang ada di dekat mereka terutama bangunan kolonial ini. Selain itu, jika dilihat dari latar belakang dan lingkungan mereka, sangat bisa dipahami kalau mereka berpendapat demikian, karena jarang membahas tentang bangunan kolonial secara spesifik karena hanya tahu umumnya saja.

Hal ini terlihat ketika melakukan wawancara, informan hanya mendengar atau membaca sepotong-sepotong tentang informasi bangunan kolonial yang ada pada media, karena menurut mereka bukan hal yang penting memahami bangunan kolonial. Dari diskusi di atas, dapat disimpulkan bahwa pemahaman generasi milenial masih terlalu dangkal terhadap bangunan kolonial, padahal baru stasiun tugu Yogyakarta belum bangunan yang lain. Oleh sebab itu, perlunya edukasi dan menanamkan kepekaan rasa terhadap generasi milenial ini.[]

Sumber:

  • Mrazek, Rudolf, 2006 . Engineers of Happy Land. Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.