The Undergrowth of Literature

ulasan buku fetis

Judul buku: The Undergrowth of Literature
Pengarang: GIiiian Freeman
Penerbit: Thomas Nelson & Sons Limited, 1967
Tebal hal: 220

Gillian Freeman adalah seorang penulis perempuan yang mengamati kultur seksualitas dan terutama deviasinya di dunia berbahasa lnggris. The Undergrowth of Literature merupakan kumpulan tulisannya yang menganalisis fantasi seksual yang hadir di media massa. Suku ini ditulis tahun 1967, sekitar 10 tahun sejak Inggris mulai mengimpor media pornografi. Sebagian besar berisi pornografi yang dianggap sebagai deviasi seksual, seperti sadomasokisme, homoseksual, lesbian, atau transeksualis. Freeman melihat kondisi masyarakat saat itu telah mencapai tahap kritis, misalnya, dengan penyebaran konsumsi media pornografi yang telah mencapai working class. Namun, fantasi seksual justru dianggap deviasi dengan tidak mengakuinya sebagai yang normal.

Fantasi seksual adalah bagian dari kehidupan manusia, yang ditabukan dari kehidupan sehari-hari dan menjadi arena yang berada di luar realitas ‘normal’. Dalam levelnya, fantasi berkaitan dengan pertahanan hidup, emosi, kompensasi psikis dan katarsis hingga ke kreativitas. Fantasi yang direpresi membuat insting pertahanan hidup manusia mencari jalan keluar, yang muncul sebagai deviasi. Kecenderungan ini yang muncul dalam fenomena undergrowth, seperti belukar, benalu, dan semak yang tumbuh rimbun dan padat di sekitar pohon tinggi dan besar.

Bentuk ekspresi dari fantasi yang muncul dalam media, yang menjadi media undergrowth adalah media yang memungkinkan timbulnya kecenderungan deviatif, dalam relasi laki-laki dan perempuan ‘normal’. Peluang bisnis ‘katarsis’ ini ditangkap oleh media yang mengeksploitasi deviasi-deviasi menjadi santapan bagi mereka yang ‘normal’ tetapi haus fantasi. Studi tentang fantasi seksual ini menjadi panting, untuk menjawab apa yang ada di balik fantasi-fantasi itu, pada apa yang direpresi dan mengapa muncul dalam bentuk-bentuk ekspresi tersebut, termasuk pada  bagaimana fantasi tertentu dipelihara demi berjalannya status quo.

Obyek kajian Freeman menyebar dari majalah wanita, buku anak-anak, majalah pornografi, hingga ke media milik mereka yang memiliki minat pada benda-benda fetitis, bondage, lesbian, dan homoseksual. Dia melihat bahwa fantasi seksual tentang kekerasan seperti dalam  sadomasokistik juga hadir dalam buku, komik, dan kartun anak-anak. Freeman menengarai bahwa obyek-obyek fetisisme telah diperkenalkan pada mata anak-anak melalui tokoh-tokoh heroik di dalam komik, yang mengenakan topeng, celana karet ketat, dan sepatu boot (benda-benda yang sering digunakan oleh fetitis). Penulis cerita anak-anak yang sangat moralis seperti Enid Slyton pun, menulis beberapa hal dalam buku-bukunya mengenai hukuman. (h. 95-6). Freeman sangat yakin bahwa Slyton adalah penulis yang menjunjung tinggi pendidikan anak-anak dalam kebebasannya dan sama sekali tidak termotivasi untuk menulis tentang kekerasan Namun, kekritisannya mengajak pembaca untuk melihat bagaimana kekerasan bisa hadir dalam berbagai bentuk tanpa tersadari dan menjadi bagian dari pengalaman bermedia pada anak­anak.

Pengamatannya terhadap majalah perempuan menunjukkan bagaimana fantasi dipelihara oleh media massa, dengan membuat citra keluarga sebagai sesuatu yang layak dijaga dan dipelihara. Tekanan besar dalam kehidupan perempuan yang berurusan dengan urusan domestik yang sebenarnya berat dan membosankan, dilihat dengan perspektif yang berbeda dengan fantasi-fantasi romantis tentang keluarga. Media menjadi alat untuk membius mereka dengan fantasi keluarga, juga menjadi media ‘sharing’ saling berbagi bagi para pembaca, sekaligus meneguhkan pola-pola patriarkis yang ada dalam masyarakat Barat.

Selain mengkaji teks dalam media, Freeman juga memberi perhatian besar dalam hubungan-hubungan antar subyek di dalam media, pada bagaimana biro konsultasi psikologi menanggapi dan memberi solusi terhadap masalah personal pembaca. Dia melihat bagaimana media menempatkan dirinya dalam masalah seksualitas termasuk memandang masalah sebagai yang normal atau tidak.

Freeman memang tidak bermaksud untuk memberikan analisis panjang lebar secara psikologis maupun sosiologis. Namun, dalam konteks masyarakat saat itu, buku ini cukup kaya sebagai studi survei dalam melihat kecenderungan media terutama pornografi. Freeman sendiri berpendapat, bahwa fantasi seksual diperlukan dalam kehidupan individu. Masalahnya, fantasi ini sering kali harus diproses dalam kehidupan masyarakat ‘normal’. Dalam bagian Trans-everything, dia menyoroti kehidupan trans-seksualis, mereka yang harus mengalami kesakitan-kesakitan ketika menjadi yang ‘tidak normal’ dan harus berhadapan dengan masyarakat yang normal, bagaimana tubuh seolah olah ‘terpisah‘ dari jiwa.

Bukan untuk menghakimi dengan kajian moral, ataupun mendukung adanya pola-pola kekerasan ekstrem, Freeman justru mengajak pembaca untuk melihat kondisi ‘undergrowth’-tumbuh di sekitar pohon besar, menjadi semak belukar. Fenomena sosial termasuk ekspresi fantasi seksual akan bisa dipahami dengan menyadari bahwa sesuatu sedang dan telah terjadi di sekitar kita. Bagaimanapun semak-belukar diperlukan asal ditata dengan estetis. Dalam hal ini, pengamatan moralistik seharusnya dilakukan secara proporsional. Jadi fantasi seksual (pornografi) ditanggapi secara normal, dewasa, dan dengan regulasi yang bijak seperti halnya alkohol, rokok dan obat-obatan. Kalau tidak, maka media dan modallah yang akan menjadi guru seks anak-anak kita, dan menjadi penentu fantasi-fantasi mana yang kita konsumsi, yang pada dasarnya hiperbolik, eksploitatif, liar dan kasar, serta tak bermartabat, dengan memanipulasi deviasi-deviasi patologis seperti fetitis, lesbian, sadomasokis.[]

*Ulasan ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, Vol. 02 No. 03, 2003.