Studi Islam Poskolonial

studi islam
Foto: Middle East Institute

Studi Islam sebagai sebuah body of knowledge memiliki tradisi panjang. Studi ini semula berkembang di kalangan sarjana Muslim di dunia Arab. Mereka mengupayakan pencarian, penafsiran dan pemahaman tentang Islam dari berbagai perspektif. Tetapi dalam perkembangan selanjutnya, interaksi antara dunia Islam dan dunia luar, dalam hal ini Eropa, telah mendorong perpindahan otoritas studi Islam ke Eropa.

Pergeseran itu tidak hanya bermakna secara geografis, tetapi juga menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan metodologi, pendekatan, kepentingan, ruang lingkup dan fokus kajian. Inilah yang kemudian menimbulkan perdebatan menyangkut teknik-teknik penelitian, problem definisi, elaborasi hipotesis, pengembangan teori dan kerangka konseptual tentang studi Islam.

Tulisan ini tidak hendak menengok model­model studi Islam sampai pada fase klasik yang berkembang di dunia Arab hingga mencapai fase keemasannya secara mendalam, melainkan hanya menjadikannya sebagai titik tolak model-model studi Islam yang kemudian berkembang di Eropa ( dan Barat pada umumnya), serta pengaruhnya terhadap studi-studi Islam di lingkungan Islam sendiri. Dengan kata lain, artikel ini hendak melihat studi Islam dalam perspektif poskolonial. Setidaknya, kita dapat melihat perkembangan dan pergeseran studi lslam di Barat dalam tiga fase. Fase pertama, yang sangat menekankan tradisi filologi, berkembang pada abad 19 dan menjelang abad 20. Fase kedua muncul sebagai reaksi atas kajian para filolog dan orientalis. Nama W. Said identik dengan fase ini. Fase ketiga adalah fase studi Islam pospositivistik. Fase ini merupakan fase yang tidak lagi terpengaruh oleh provinsialisme keilmuan seperti paradigma ilmu kealaman dan paradigma ilmu-ilmu sosial.

Dengan sudut pandang sosiologi dan sejarah, kajian tentang keagamaan menunjukkan bahwa sesungguhnya pemahaman ajaran dan batang tubuh ilmu-ilmu keagamaan itu sendiri sarat berbagai kepentingan. Ini mengingatkan kita pada gagasan Michel Foucault tentang kekuasaan dan pengetahuan. Setiap pengetahuan pada dirinya mengandung kekuasaan. Dari sini kita dapat mengatakan bahwa model-model studi Islam atau studi ketimuran yang berkembang di Barat dan Eropa sebelum Perang Dunia ll merupakan upaya taktis dan strategis akademis yang sarat kepentingan, baik itu politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Studi keislaman dan ketimuran pada era itu tidaklah bebas dari tendensi dan intervensi yang sarat muatan politis. Bahkan intelektual Barat seperti Binder pun, sebagaimana diungkapkan oleh Richard King, mengakui hal ini. Setidaknya menurut Binder, yang demikian itu terjadi dalam dua hal, yaitu adanya prasangka agama dan politik dalam studi Islam yang tampak dalam tradisi keilmuan para orientalis (Martin, 2001).

Salah seorang yang banyak menelisik dan mengungkap bias kolonial dalam studi Islam adalah Edward W. Said, yang oleh para pengikutnya telah ditahbiskan sebagai (salah satu) peletak dasar studi poskolonial. Ia menyoroti dan sekaligus mengangkat berbagai sisi gelap imperialisme dan kolonialisme Barat ke permukaan. Secara tegas ia mengatakan bahwa ‘studi ketimuran’ atau Orientalisme merupakan suatu disiplin keilmuan yang secara material dan intelektual berkaitan dengan ambisi politik dan ekonomi Eropa, dan Orientalisme telah menghasilkan gaya pemikiran yang menunjukkan adanya distingsi teologis dan epistemologis antara Timur dan Barat.

Sebagai bidang kajian dan penelitian ilmiah, Islamic Studies (Diraasaat Islaamiyyah) bekerja dengan data yang mengandung makna-makna keagamaan dalam masyarakat atau komunitas, kelompok atau individu Muslim. Karena itu kajian tersebut sangat membutuhkan bantuan metodologis dari sudut pandang yang tidak lagi biasa, tidak pula terkungkung oleh dikotomi pusat / pinggiran, bukan pula terhegemoni oleh perspektif teologi tertentu; dan yang mengharuskan para pengkaji untuk memperhatikan secara penuh apa yang dimaksud dengan ‘Islam’ berikut ‘tradisinya’ dalam masyarakat Muslim.

Studi Islam membutuhkan bantuan metodologis dari sudut pandang poskolonial guna mengonstruksikan makna keagamaan tertentu dari data yang menjadi perhatian para sarjana Muslim, dan kemudian menentukan bagaimana data tersebut diolah ke dalam perangkat struktur dan sistem pengetahuan yang koheren. Tidak cukup berhenti sampai di situ, usaha itu perlu dilanjutkan dengan menyusunnya kembali menjadi pola keagamaan yang lebih bersifat humanis dan non­diskriminatif.

Meskipun demikian, karena perbedaan-perbedaan budaya dan agama yang dianut, para sarjana memisahkan diri mereka dari masyarakat dan agama yang mereka kaji. Mereka juga hidup dalam keyakinan-keyakinan filosofis, moral, estetika, dan agama yang berbeda. Latar belakang semacam itu berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung kepada kesimpulan yang ditarik dad fakta-fakta keagamaan (Islam) tertentu.

Studi tentang data keagamaan, teks-teks mistik dan interpretasi tentang makna-makna ke­agamaan, meskipun metode d􀃀 pendekatan yang digunakan sama, kesimpulan-kesimpulan ilmiahnya cenderung berbeda karena latar belakang dan sensibilitas yang berbeda pula. Situasi yang sama juga terjadi pada studi-studi tentang agama dan budaya Islam oleh para ahli dan pemerhati Islam.

Berkaitan dengan realita sebagaimana terurai di atas, Said menawarkan metodologi dalam studi ketimuran (Islam) yang lebih humanis, yang meliputi penemuan dan perumusan langkah awal, perancangan teks-teks, pengarang-pengarang, serta periode yang akan dikaji. Khusus menyangkut masalah teks, Said menegaskan perlunya identifikasi dan seleksi atas teks yang akan diteliti. Menurutnya, paradigma seleksi teks yang akan dapat membantu dan memudahkan dalam penelitian adalah berangkat dari latar belakang historis dan intelektual. Dalam hubungannya dengan kajian tentang otoritas pengetahuan, Said menawarkan dua peralatan metodologis, yaitu lokasi strategis dan formasi strategis. Yang di­maksud dengan lokasi strategis adalah suatu cara untuk menjelaskan kedudukan penulis dalam suatu teks dalam kaitannya dengan materi yang menjadi topik tulisannya. Sedangkan yang dimaksud dengan formasi strategis adalah cara menganalisis hubungan antar teks dan cara di mana kelompok-kelompok teks, jenis teks, kekuatan referensial di kalangannya sendiri dan kemudian di lingkup budaya secara luas saling berinteraksi.[]

Sumber:

  • Martin, Richard C. 2001. Islam dan Studi Agama, dalam Richard C. Martin (ed.), Pendekatan Kajian Islam dan Studi Agama, terj. Zakiyuddin Baidawy, Surakarta: Muhammadiyah University Press.

*Artikel ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, edisi April 2005.