Semiotika Puisi

puisi

Sebagai sebuah karya seni, puisi selalu diminati masyarakat. Kendati demikian, orang seringkali menemukan kebuntuan untuk memahami sebuah puisi. Puisi tidak jarang dianggap sebagai karya sastra yang bersifat enigmatik atau penuh teka­teki. Riffaterre (1978) mengajukan dua alasan untuk menjawab kesan demikian. Pertama, bahasa yang dipergunakan dalam puisi cenderung menyimpang dari ucapan biasa dan memiliki tata bahasa khusus. Kedua, puisi memiliki bahasa yang dapat menyatakan beberapa hal secara tidak langsung. Dari sini kita mengetahui peran penting bahasa sebagai sarana yang mendukung penyair untuk mengutarakan pengalaman, emosi, pendapat, atau keprihatinannya atas sejumlah hal.

Dalam proses kreatif kata-kata yang dipergunakan oleh penyair merupakan kata-kata yang terpilih, yang menjadi sistem tanda yang dapat mengungkapkan gambaran dunia simbolis yang dinyatakan dalam karyanya. Untuk mengungkapkan A, misalnya, penyair tidak jarang harus berputar-putar melewati Z. Oleh karena itu, untuk menghadirkan makna yang tersirat, seorang peneliti atau pembaca puisi harus mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan penyairnya. Sebab, puisi mengekspresikan konsep-konsep tertentu secara tidak langsung dan menyembunyikannya ke dalam suatu tanda. Untuk memaknai atau mengadakan konkretisasi makna puisi, kita dapat mempergunakan salah satu metode yang dikemukakan Michael Riffaterre dalam Semiotics of Poetry (1978). Ia melontarkan empat hal pokok yang dapat dipergunakan untuk memproduksi makna puisi.

Pertama, puisi merupakan produk aktivitas berbahasa yang berbeda dari pemakaian bahasa pada umumnya. Puisi memiliki bahasa yang dapat menyatakan beberapa hal secara tidak langsung. Dalam puisi, ketidaklangsungan ekpresi menduduki posisi utama. Ketidaklangsungan ekspresi yang dimaksud disebabkan adanya penggantian arti (displacing of meaning), penyimpangan arti (distorting of meaning), dan penciptaan arti (creating of meaning). Riffaterre menyatakan bahwa peng­gantian arti ini disebabkan oleh penggunaan metafora dan metonimi, serta bahasa kiasan lain. Penyimpangan arti disebabkan oleh tiga hal, yakni ambiguitas (ketaksaan), kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti ditimbulkan melalui enjambement, homologue, dan tipografi atau bentuk visual sajak.

Kedua, pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan dalam taraf mimesis atau pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa. Karena bahasa memiliki arti referensial, pembaca harus memiliki kompetensi linguistik agar dapat menangkap arti (meaning). Kompetensil inguistik yang dimiliki oleh pembaca itu berfungsi sebagai sarana untuk memahami beberapa hal yang disebut sebagai ungrammaticalities of text (ketidak gramatikalan teks). Sebagai sarana interpretasi tahap awal, pembacaan heuristik harus dilakukan dari awal ke akhir teks, serta dari atas ke bawah mengikuti rangkaian sintagmatik. Pada akhirnya, pembacaan ini menghasilkan serangkaian arti yang bersifat heterogen. Di sisi lain, pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra.

Pada tahap ini, pembaca dapat menafsirkan makna karya sastra berdasarkan interpretasi yang terdapat pada pembacaan heuristik. Dari hasil pembacaan pertama yang masih relatif heterogen itu pembaca harus bergerak lebih jauh untuk memperoleh kesatuan makna. Pada tahap ini, pembaca harus memeriksa kembali, membanding­kan apa yang telah dibacanya, dan sekaligus memodifikasi pemahamannya dengan pemahaman yang terjadi dalam pembacaan hermeneutik. Dengan cara demikian, pembaca mampu memperhatikan hal-hal yang semula terlihat sebagai ketidak gramatikalan teks menjadi himpunan kata-kata yang ekuivalen.

Ketiga, penentuan matriks atau kata kunci, model, dan varian. Matriks dapat dimengerti sebagai konsep abstrak yang tidak pernah teraktualisasi. Konsep ini dapat dirangkum dalam teks puisi yang bersangkutan. Namun, yang muncul adalah aktualisasinya. Aktualisasi pertama dari matriks adalah model. Model ini dapat berupa kata atau kalimat tertentu. Berdasarkan hubungan demikian, dapat dinyatakan bahwa matriks merupakan motor penggerak derivasi tekstual, yang berfungsi menunjukkan arah makna puisi yang sebenarnya. Sedangkan model menjadi pembatas derivasi itu. Dalam praktiknya, matriks yang dimaksud senantiasa terwujud dalam bentuk-bentuk varian yang berurutan. Bentuk varian ini ditentukan oleh model.

Keempat, prinsip intertekstualitas, atau prinsip hubungan antar teks sajak. Berangkat dari asumsi bahwa karya sastra, termasuk puisi, tidak lahir dalam kevakuman budaya (Teeuw, 1981), sebuah sajak me­rupakan tanggapan terhadap teks-teks yang ada sebelumnya. Teks-teks yang dimaksud dapat berbentuk apa saja, termasuk potongan sajak, aforisme, film, pandangan hidup, dan pengalaman hidup yang dialami. Tanggapan demikian dapat berupa penyimpangan atau penerusan tradisi. Di sini senantiasa terjadi proses transformasi teks.

Mentransformasikan adalah memindahkan sesuatu dalam bentuk atau wujud yang lain tetapi pada hakikatnya sama (Pradopo, 1994). Dalam proses tersebut, dikenal adanya istilah hipogram, yakni teks yang menjadi la tar penciptaan teks lain, atau sajak yang menjadi latar penciptaan sajak yang lain.5 Dalam praktiknya, hipogram dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu hipogram potensial dan hipogram aktual. Hipogram potensial dapat ditelusuri dalam bahasa yang bersifat hipotetis seperti yang terdapat dalam matriks, sedangkan hipogram aktual bersifat nyata dan eksplisit.[]

Sumber:

  • Michael Riffaterre. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington, London.
  • Teeuw, A. 1981. Tegantung pada Kata. Jakarta.
  • Pradopo, Rachmat Djoko. 1994. Pemaknaan Puisi. Yogyakarta.

*Artikel ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, edisi April 2005.