Reproduksi Tenaga Kerja Dalam Lingkaran Perusahaan Sawit

Foto: infosawit.com

Sekitar tahun 2004, hadir sebuah perusahaan di desa Bajamas, Kecamatan Sirandorung, Kab. Tapanuli Tengah, yakni PT. Nauli Sawit (selanjutnya akan disingkat dengan PT. NS). Semenjak masuknya investasi perkebunan sawit tersebut, corak produksi petani di Kecamatan Sirandorung sekitarnya mulai mengalami transisi, dari yang masih menyadap karet (bahasa Toba: Hapea), sawah ladang, dan umbi-umbian hingga merambat ke sawit. Hal ini diupayakan oleh pihak investor untuk memperkenalkan gaya hidup bertani yang baru dan juga sebagai kedok masuknya investasi mereka pelan-pelan agar bisa diterima oleh petani setempat. Upaya ini dilakukan secara sengaja sebagai bentuk terjalin kerja sama antara investor dalam mengambil lahan para petani yang ditargetkan sebagai lahan perkebunan sawit nantinya.

PT. NS membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat sekitar. Meski saat itu (tahun 2004-2007), upah yang diberikan kepada tenaga kerja terbilang tidak besar, tetapi mereka senang dan beranggapan upah itu sudah lebih dari cukup. Hal ini juga menarik minat banyak orang untuk berpartisipasi sebagai tenaga kerja yang akan diberi upah itu. Bahkan mereka berdatangan dari luar daerah. Apabila ada pertanyaan tentang keberadaan PT. NS ini, dalil pengentasan kemiskinan, memajukan kesejahteraan masyarakat, dan lain-lain. Memang dengan hadirnya PT. NS ini membawa kemajuan di wilayah kecamatan Sirandorung, khususnya kelurahan Bajamas. Kemajuan ini ditandai dengan masuknya aliran listrik ke daerah pedalaman, menjadikan tempat produksi menjadi wadah “bersilaturahmi” dari berbagai daerah. Namun terkadang yang menjadi permasalahan ialah munculnya kesenjangan sosial entah adanya mereka yang disejahterakan maupun mereka yang tidak disejahterakan. 

Menurut Althusser, kapitalisme membutuhkan reproduksi tenaga kerja guna melanjutkan proses produksinya. Ia membutuhkan keterampilan para pekerja untuk mengoperasikan mesin-mesin produksi. Agar para pekerja dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, ia diberikan upah. Penetapan upah oleh kapitalisme didasarkan atas kebutuhan biologis dan sosial tenaga kerja. Tenaga kerja membutuhkan upah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, ini disebut kebutuhan biologis. Sedangkan secara sosial, para tenaga kerja memerlukan upah untuk mengatasi stres yang menimpanya dengan membeli bir atau anggur. Stres yang dialami para tenaga kerja merupakan ekspresi mereka dari penindasan yang dilakukan kaum borjuis (Althusser, 2015). Misalnya perjuangan melawan diperpanjangnya jam kerja (tanpa penambahan upah), dan melawan pengurangan upah. 

Dalam hal ini, upah tampil dalam akuntansi tiap perusahaan, tetapi sebagai ‘kapital upah’, sama sekali bukan sebagai kondisi reproduksi material dari tenaga kerja. Upah hanya merepresentasikan sebagian dari nilai pengeluaran tenaga kerja, yang sangat diperlukan untuk reproduksi dirinya. Misalnya untuk pemulihan tenaga kerja untuk membayar rumah, makanan dan pakaian. Tujuannya ialah agar selanjutnya tenaga kerja tersebut bisa hadir kembali di perusahaan tersebut. Namun, kapitalisme terutama membutuhkan keterampilan para tenaga kerja. Keterampilan tenaga kerja tidak cukup didapatkan dari pelatihan singkat yang diberikan perusahaan yang bersangkutan. 

Tetapi semakin diperoleh di luar produksi, seperti sistem pendidikan kapitalis, peristiwa-peristiwa dan lembaga-lembaga lainnya. Butuh proses panjang untuk mendapatkan keterampilan yang diinginkan oleh kaum borjuis. Kaum kapitalisme membutuhkan sebuah kekuatan yang mampu mempengaruhi kesadaran para tenaga kerja agar tetap produktif serta tunduk kepada atasan. Di sinilah peran negara muncul. Menurut Althusser, negara memiliki fungsi untuk menanamkan ideologi yang sesuai dengan keinginan mereka. Dalam hal ini, nilai-nilai patuh, hormat kepada atasan ada di dalam ideologi yang dibuat negara. “reproduksi tenaga kerja tidak hanya reproduksi keterampilannya, juga reproduksi ketundukannya terhadap aturan dari tatanan yang ada, terhadap ideologi yang berkuasa bagi para pekerja” (Althusser, 2015:14).

Pada tahun 2011, saya (sekaligus mengalami) ikut bekerja di perusahaan tersebut ± 2 bulan, tepatnya libur kelulusan SMP. Saat itu penulis menerima upah Rp 40.000/hari, sementara jam kerja dimulai pukul 05.00 (apel di depan kantor perusahaan dan menerima pembagian tugas dari mandor), pukul 06.00-06.30 berangkat ke lapangan kerja (biasa dikenal ancak), dan pukul 07.00-13.00 adalah durasi waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Saat itu penulis bekerja di bagian membersihkan pohon kelapa sawit yang sudah ditargetkan untuk diselesaikan pada hari tersebut. Teriknya sinar matahari menjadi pelengkap rasa lelah saat bekerja. Itu berlangsung terus. Dan di akhir bulan, tenaga kerja akan menerima upah selama 1 bulan.

Bagi saya, ketika menerima upah tersebut adalah suatu kebanggaan (saat itu). Saya  merasa hebat, di umur yang masih belia sudah menghasilkan uang. Saya juga sempat mendengarkan cerita para ibu tetanggan, bahwa upah yang diterima tersebut menjadi alat kesombongan. (Saat itu, di tempat saya masyarakat banyak bekerja sebagai petani, artinya mereka jarang memiliki uang dalam jumlah yang terbilang banyak itu). Nah, ketika saya membaca teori Althusser tentang Reproduksi Tenaga Kerja, ternyata upah yang diterima para pekerja selama ini hanyalah sebagai representasi sebagian dari nilai produksi pengeluaran tenaga kerja. Artinya, upah diberikan untuk menyenangkan tenaga kerja agar mereka tetap berminat untuk tetap melakukan pekerjaannya untuk selanjutnya. Upah yang diterima sebenarnya tidak mencukupi biaya kebutuhan hidup secara total.

Sama seperti kaum Marxis pada umumnya, Althusser menganggap negara sebagai ‘mesin represi’ untuk memastikan dominasi kelas yang berkuasa atas kelas pekerja. Fungsi ini dilakukan oleh beragam aparatus negara, seperti tentara, polisi, pengadilan, dst. Inilah RSA dan fungsinya cukup jelas terlihat dalam kehidupan kita, terutama saat terjadi konflik terbuka antara kapital dengan rakyat. Dan inilah juga yang terjadi di PT. NS ini. 

Tahun 2015, nilai Rupiah semakin rendah jika dibandingkan dengan harga produksi. Upah yang diterima semakin terasa tidak mencukupi kebutuhan hidup para tenaga pekerja. Bahkan, terjadi pengurangan tenaga pekerja. Bekerja hanya sebagai buruh saja, mengalami persaingan yang tinggi. Dan alangkah menyedihkannya, kebanyakan rakyat di sekitar hanya diam saja. Tenaga pekerja sudah heterogen dengan kapitalisme. Ideologi kepatuhan/ketundukan kepada penguasa memang sangat terwujud dalam fenomena ini, sebagaimana yang dikatakan Althusser. “Reproduksi tenaga kerja tidak hanya mengenai reproduksi skill/teknik tapi juga kepatuhan pada ideologi yang berkuasa.”

Sampai sekarang, upah yang diterima tenaga pekerja semakin memprihatinkan. Salah seorang yang bekerja pada kaum kapitalis (PT. Nauli Sawit), R Aritonang (bekerja di bagian merawat tanaman) mengatakan kepada saya bahwa upah itu tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup yang menanjak tinggi di pasar global. “Upah yang tidak seberapa, merontokkan badan”. Beliau juga menambahkan bahwa jumlah harian kerja dibatasi kapitalisme, hanya 20 HK (harian kerja) dalam sebulan. Dan setelah berproduksi 3 bulan berturut-turut, para tenaga pekerja berhenti (mereka menyebutnya off) selama 1 bulan secara bergiliran. Tenaga pekerja yang lain, FH (bekerja sebagai sopir) juga mengatakan hal yang sama. Upah yang diterima tidak setara lagi dengan pengeluaran sehari-hari. Menghadapi situasi ini, para tenaga pekerja hanya diam saja. 

Dari situasi tersebut dan dibandingkan dengan teori Althusser, hemat saya ialah upah yang diterima para pekerja selama ini ternyata di bawah UMR (Upah Minimum Regional) Tapanuli Tengah. Dan masyarakat masih tabu dalam hal ini. Kekurangan upah yang diterima dari kapitalisme, tertimbun untuk menambah modal penguasa kapitalis. Sikap represi dari tenaga pekerja selama ini tidak ada. Apakah kapitalisme di PT. NS berpedoman dengan teori ini? Menanamkan ideologi kepatuhan kepada para tenaga pekerjanya. 

Sebagian kalangan Marxis, termasuk Marx sendiri dalam The German Ideology, ideologi  dengan arti yang ‘negatif,’ yaitu sebagai gagasan-gagasan imajiner (tidak sesuai dengan kenyataan) yang ‘melanggengkan’ tatanan sosial yang ada. Biasanya, sebagai tandingan dari ideologi, mereka memajukan ‘ilmu pengetahuan.’ Althusser juga meneruskan tradisi ini, tapi ia memberikan pengertian yang berbeda dengan apa yang menurutnya merupakan pengertian Marx, yang diambil dari Feuerbach, tentang ideologi. Jadi, kalau menurut Marx, apa yang direpresentasikan secara imajiner dalam ideologi adalah kondisi keberadaan riil manusia atau relasi-relasi riil di mana manusia hidup, maka menurut Althusser, yang direpresentasikan dalam ideologi terutama bukanlah hal tersebut, melainkan relasi imajiner individu dengan relasi-relasi riil di mana mereka hidup (Althusser, 2015:40-45)

Adapun distorsi terhadap relasi-relasi riil itu terjadi karena adanya relasi imajiner kita dengan relasi-relasi riil tersebut. Sebenarnya agak samar apa yang dimaksud Althusser dengan ‘relasi imajiner’ di atas. Namun, berdasarkan pembahasan Althusser mengenai ideologi sebagai konstruksi subyek, Sebagai subyek, kita merasa sebagai ’individu bebas,’ berperilaku dan bertindak sesuai apa yang kita pikirkan, sehingga tindakan dan perilaku kita tampak sebagai efek dari gagasan kita. Akibatnya, kita juga melihat secara imajiner bahwa kondisi riil kita adalah efek dari diri kita. 

Padahal, menurut Althusser, kenyataannya adalah yang sebaliknya, gagasan kita itu hanya merupakan efek dari tindakan kita, yang diatur oleh ritual-ritual yang ditentukan oleh ISA. Cara ideologi mengkonstruksi subyek ini disebut Althusser sebagai ‘interpelasi’ atau ‘pemanggilan’ (hailing). Adapun kapitalisme mengkonstruksi tenaga pekerja sebagai subyek dalam proses reproduksinya, agar ketika memainkan peran dalam reproduksi kapitalis, tenaga pekerja tidak merasa ”dipaksa” dari luar, tapi merasakannya sebagai sesuatu yang memang harus dilakukan dengan suka rela. Juga karena tenaga pekerja sudah menggantungkan diri kepada kaum kapitalisme tersebut. [ ]

Sumber:

  • Althusser, Louis . 2015. Ideologi dan Aparatus Ideologi Negara (Catatan-catatan Investigasi), Indoprogress.