Populer Culture dalam Cultural Studies

ulasan cultural studies

Judul buku: Cultural Studies and the Study of Popular Culture: Theories and Methods
Penulis: John Storey
Penerbit: Edinburg University Press Ltd, 1996
Tebal hal: 148

Bicara tentang Cultural Studies, tidak akan lepas dari pembahasan tentang Popular Culture. Karena itu dalam buku yang membahas studi-studi budaya ini, Storey mengkhususkan pembahasannya pada fenomena budaya populer dalam teori-teori maupun metode-metode yang berkembang.

Dua tujuan utama keberadaan dari buku ini adalah: pertama, mengenalkan studi budaya kontemporer pada pembaca; dan kedua, mengusulkan suatu peta tentang perkembangan studi-studi budaya melalui suatu pembahasan dalam tingkat teori-teori dan metode-metode bagi studi budaya populer. Dalam pembahasannya, Storey belum melakukan suatu pemetaan detail tentang budaya populer di tengah arus pembelajaran studi -studi budaya. Tahapan ini baru sampai pada upaya membawa suatu tingkat pendekatan-pendekatan yang telah memberikan suatu sumbangan penting bagi perkembangan pendekatan studi-studi budaya ke dalam studi budaya populer kontemporer secara bersama dalam diskusi. Karena itu, buku yang lebih bersifat sebagai pengantar ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca yang baru kenal pada bidang budaya populer dalam studi-studi budaya dan memberikan gambaran luas yang bersifat kritis bagi mereka yang sudah lebih tahu tentang prosedur dan politik studi-studi budaya.

Beberapa bentuk budaya populer yang menjadi fokus pembahasan Storey di antaranya; televisi, karangan-karangan fiksi, film, surat kabar dan majalah, dan musik populer. Dari budaya-budaya populer itu muncullah studi tentang konsumsi dalam kehidupan sehari-hari yang sudah sejak lama menjadi satu masalah budaya. Dan pada perkembangannya, budaya konsumsi sangatlah erat dengan fan culture dan shopping culture yang dalam prosesnya telah menjadi budaya populer.

Fan Culture berkaitan dengan tontonan-tontonan masyarakat umum dan sirkulasi produksi yang berarti dan praktik-praktik membaca dalam masyarakat. Dalam hal ini, suatu arti terbentuk ketika suatu fan culture berkomunikasi dengan fan culture lain. Sementara itu, shopping merupakan suatu kegiatan yang kompleks. Di lnggris dan Amerika misalnya, shopping merupakan kegiatan waktu luang yang paling populer. Secara singkat dapat dikatakan bahwa fan culture dan shopping culture sudah menjadi budaya populer.

Untuk mencermati bagaimana budaya populer ditempatkan, Storey mengatakan bahwa studi-studi budaya didasarkan pada paham Marxis yang menjelaskan studi budaya dalam dua cara dasar. Pertama, untuk memahami arti suatu teks atau praktik budaya, orang harus menganalisa situasi sosial dan historis saat teks dan praktik budaya budaya tersebut diproduksi dan dikonsumsi. Kedua, studi budaya memandang budaya sebagai satu dari sisi prinsip untuk menetapkan dan memperjuangkan pembagian masyarakat baik berkaitan dengan masalah etnik, gender, penggenerasian ataupun garis-garis kelas.

Studi-studi budaya menggunakan hegemoni –yang oleh Hall (i992) yang disebut metafora hegemoni yang sangat produktif- yang berpendapat bahwa bahwa suatu dialektik antara proses produksi dan aktivitas konsumsi. Konsumen selalu berhadapan dengan suatu teks atau praktik produksi tertentu. Namun, teks dan praktik yang dihadapi konsumen sebenarnya memproduksi sejumlah arti/makna yang tidak dapat dibaca dari material teks atau praktik dalam hubungan produksi saja. Dalam hal ini, studi budaya mendesak agar pembentukan budaya populer (produksi yang masih dipergunakan) memberikan kuasa untuk mengganti dan mempertahankan pemahaman yang dominan tentang dunia. Namun untuk menentukannya harus memperhatikan secara cermat hal-hal mengenai produksi, distribusi dan konsumsi budaya.

Hubungan antara audiens dan teks-teks populer merupakan hubungan aktif -produktif. Makna dari suatu teks tidak dapat ditentukan dari tulisan-tulisan yang ada. Orang harus berusaha secara terus menerus tidak hanya untuk menentukan teks tersebut bermakna bagaimana, tetapi terlebih pada menjadikan teks tersebut bermakna apa bagi kebutuhan, pengalaman, dan hasrat mereka sendiri. Suatu teks hanya akan memberikan arti dalam konteks, pengalaman, dan situasi dari pembaca atau pendengarnya. Oleh karenanya, teks yang sama akan memberikan arti yang berbeda bagi orang yang berbeda.

Studi-studi budaya merupakan suatu wacana yang kompleks dan terbuka yang menyangkut berbagai peristiwa dan karya yang berbeda dan menanggapi kondisi-kondisi historis dan politik yang selalu berubah. Budaya biasa diartikan secara estetis sebagai obyek-obyek keunggulan estetis atau sebagai proses estetis, perkembangan intelektual dan spiritual. Namun dalam studi-studi budaya, Storey mencoba melihat budaya secara lebih luas dan lebih bersifat politik yakni sebagai teks-teks dan praktik-praktik kehidupan sehari-hari yang dianggap sebagai suatu sisi kunci bagi produksi dan reproduksi hubungan-hubungan sosial kehidupan sehari-hari. Karenanya, sebagai catatan akhir, dalam buku ini Storey lebih banyak membicarakan masalah-masalah yang ada dan cara-cara mengatasi masalah tersebut dalam rangka menghindari opinion writing, yang cenderung menjelaskan teori-teori dan metode-metode saja.[]

*Ulasan ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, Vol. 1 No. 2, Agustus 2002.