Perempuan dalam Film Big Eyes

Pada tahun 2014 muncul film Big Eyes, film yang rilis dalam rangka liburan natal dan tahun baru. Dibintangi oleh Amy Adams sebagai Margaret Keane dan Christoph Waltz sebagai Walter Keane. Film ini diangkat dari kisah nyata sepasang suami istri Margaret dan Walter Keane. Drama kriminal Amerika Serikat tahun 2014 yang disutradarai oleh Tim Burton dan diproduseri oleh Tim Burton, Scott Alexander, Larry Karaszewski dan Lynette Howell.

Naskah film ditulis oleh Scott Alexander dan Larry Karaszewski. Film ini dibintangi oleh Amy Adams, Christoph Waltz, Danny Huston, Jon Polito, Krysten Ritter, Jason Schwartzman dan Terence Stamp. Kira-kira dalam film isinya seperti ini, tahun 1958 Margaret Ulbrich (Amy Adams) meninggalkan suaminya yang egois dan membawa putrinya, Jane (Delaney Raye), ke North Beach, San Francisco.

Membesarkan putrinya sendiri, Margaret mendapatkan pekerjaan untuk membuat lukisan di pabrik furnitur. Ketika ia membuat lukisan di sebuah bazar khusus seni, Margaret bertemu dengan Walter Keane (Christoph Waltz), yang menjual lukisan pemandangan dan jalan di Paris miliknya. Setelah itu, Walter melamar Margaret dan mereka menikah.

Walter pergi ke klub jazz populer dan mencoba meyakinkan pemilik klub, Enrico Banducci (Jon Polito), untuk membeli lukisan Margaret dan Walter, tetapi Enciro tidak mau. Ia hanya setuju untuk menyewakan dinding untuk Walter. Seorang wanita mabuk terkesan dengan salah satu lukisan Margaret dan membelinya. Walter berkelahi dengan Enrico dan berakhir dengan terpampangnya foto mereka di halaman depan koran lokal. Ketika Walter pergi ke klub lagi, orang-orang penasaran dengan Walter. Dick Nolan (Danny Huston) kolumnis gosip selebriti (yang berperan sebagai narator film ini), ingin tahu lebih banyak tentang seni Walter, tetapi ia hanya tertarik dengan lukisan Margaret.

Setelah itu, Walter menunjukkan kepada Margaret semua uang yang mereka hasilkan dari penjualan lukisan tersebut. Walter memberitahu Margaret bahwa mereka adalah tim yang hebat, meminta Margaret untuk melukis di rumah dan Walter yang akan menjual karya-karya Margaret. Walter membuka galeri sendiri, mempromosikan seni sebagai karyanya sendiri dan menjual lukisan tersebut. Margaret, kecewa karena Walter mengambil penghargaan atas seninya dan ia merasa bersalah telah berbohong kepada Jane (Madeleine Arthur) tentang siapa pelukis yang sebenarnya. Margaret memutuskan untuk melukis dengan gaya yang berbeda dengan corak memanjang dan mata kecil sehingga ia bisa dengan jujur memberitahu kepada semua orang bahwa ia juga seorang pelukis.

Margaret dan Walter pindah ke rumah besar. Ketika mereka menemukan kotak besar kayu, Margaret menemukan setumpuk lukisan jalanan di Paris, tetapi semuanya ditandatangani oleh S. CENIC. Margaret menyadari bahwa Walter melukis atas nama pelukis aslinya dan mengklaim lukisan itu sebagai lukisannya sendiri. Ketika Margaret berseteru dengan Walter, Walter memberitahu bilang ia selalu ingin menjadi seniman (pelukis) namun ia tidak pernah memiliki bakat. Walter mengetahui tentang Pameran Dunia New York tahun 1964 dan meminta Margaret untuk melukis sesuatu untuk dipajang. Margaret menolak dan Walter mengancam akan membunuhnya.

Jane mengetahui bahwa ibunya sedang membuat lukisan untuk Pameran Dunia, “Tomorrow Forever”. Jane memberitahu ibunya bahwa ia selalu tahu bahwa ibunya adalah pelukis sejati. Di sebuah pesta, Walter marah setelah membaca ulasan tajam John Canaday (Terence Stamp) tentang “Tomorrow Forever” di pameran dan berseteru dengan John. Kembali ke rumah, Walter mabuk berat dan melempar korek api ke Margaret dan Jane. Mereka lari ke studio dan mengunci pintu, tetapi Walter nyaris membuat rumah mereka terbakar.

Akhirnya, Margaret dan Jane melarikan diri lagi dari pernikahannya. Setahun kemudian, Margaret dan Jane tinggal di HonoluluHawaii. Walter tidak akan menyetujui perceraian kecuali jika Margaret menandatangani hak cipta atas semua lukisan Margaret dan membuat lebih dari seratus lukisan. Margaret menyetujuinya dan terus mengirimkan lukisan ke California.

Margaret dikunjungi oleh dua Saksi-Saksi Yehuwa yang meyakinkannya bahwa kejujuran itu penting. Ketika Walter menerima lukisannya, mereka menandatangani “MDH Keane”. Di sebuah acara radio Hawaii, Margaret memberitahu bahwa ia adalah pelukis sejati di balik lukisan yang berkaitan dengan Walter hingga menjadi berita nasional. Dick Nolan menerbitkan klaim Walter bahwa Margaret telah “menjadi gila”.

Margaret menuntut Walter beserta surat kabar yang mencetak versi cerita Walter karena fitnah. Saat di persidangan, wartawan berkerumun di gedung pengadilan di Honolulu. Hakim segera menyatakan bahwa pernyataan Margaret di media massa telah memberikan kontribusi kepada publik dengan pendapat bahwa Walter telah membuat lukisan tersebut dan dengan demikian, hakim menolak tuntutan pencemaran nama baik terhadap surat kabar.

Karena tuntutan pencemaran nama baik hanya menyangkut koran dan pengacaranya, Walter ditinggalkan untuk membela diri dari fitnah, bahkan memeriksa dirinya sendiri sebagai “saksi”. Hakim meminta Margaret dan Walter untuk membuat sebuah lukisan selama satu jam untuk membuktikan siapa pelukis sebenarnya. Margaret melukis dengan mantap, tetapi Walter ragu-ragu dan mengklaim bahwa lengannya terlalu sakit untuk menahan kuas cat.

Margaret menyelesaikan lukisannya dan memenangkan tuntutan hukum. Di luar gedung pengadilan, Margaret mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan uang dan hanya menginginkan pujian atas lukisannya. Seorang penggemar meminta Margaret untuk menandatangani salinan “Tomorrow Forever” dan ia menandatanganinya. Akhirnya, Margaret dapat mengabadikan karyanya sendiri.

Memahami film Big Eye dari sosok Margaret

Pembahasan dengan topik utama kaum perempuan memang selalu memiliki nilai tersendiri, baik secara keunikan maupun keberadaannya dalam lingkungan masyarakat yang masih mengedepankan budaya patriarki dalam kehidupan. Perempuan selalu diposisikan sebagai individu yang lemah, hal ini memiliki efek pada penerapan ideologi yang menempatkan perempuan selalu dibawah laki-laki, baik dalam kelas sosial, ekonomi, politik, maupun kekuasaan.

Margaret perempuan dalam film Big Eye ini awalnya digambarkan sebagai sosok yang pergi dari suami pertamanya karena bersifat egois, lalu pergi membaca barang yang seperlunya dan anak semata wayangnya. Berjuang sendiri mencari pekerjaan untuk bertanggung jawab atas kehidupannya dan anaknya, dapat mengambil keputusan penting demi mendapatkan apa yang diharapkan. Perjuangan serta usaha feminisme untuk mencapai tujuan ini mencakup berbagai cara. Salah satu caranya adalah memperoleh hak dan peluang yang sama dengan yang dimiliki laki-laki (Djajanegara, 2000).

Pada adegan Walter melamar Margaret, Walter mengatakan “aku akan merawat kalian berdua” (Margaret dan Jane). Ini mengacu seakan-akan kekuatan kekuasaan hanya terletak pada laki-laki. Cris Weedons dalam Feminist Practice and Postcultural Theory menyatakan istilah patriarkal mengacu pada hubungan kekuatan dimana kepentingan perempuan dianggap rendah daripada laki-laki. Hubungan kekuatan ini memiliki banyak bentuk, mulai dar penggolongan pekerjaan menurut jenis kelamin dan pemperdayaan dalam organisasi sosial, hingga norma femininitas yang diinternalisasikan dalam kehidupan kita. Kekuatan patriarkal bertumpu pada makna sosial yang berdasar jenis kelamin (Sarah, 2004).

Terlihat juga adegan dan percakapan deskriminasi saat bercerita pada wartawan Dick Dolan, Walter mengatakan “sayang sekali orang tidak mau membeli hasil karya seni wanita”, Walker yang sering sekali menyakiti perasaan Magaret dengan mudah dia selalu mengucapkan perkataan maaf, tetapi Margarate masih berusaha sabar menghadapinya walaupun ia tahu ia sudah melakukan hal yang salah terhadap dirinya maupun anaknya (karena berbohong). Margarate tetap berkarya dengan visual laki-laki atau perempuan tergantung situasi moodnya, ia sangat menghargai soal kejujuran pada hubungan dia sendiri dan karyanya, tetapi lagi-lagi hegemoni Walker terhadap kehidupan dan karya Margarete ia campuri, demi uang dan popularitas yang ia inginkan.

Sebuah refleksi film Big Eye

Saya rasa film yang dihadirkan ini menarik apalagi film ini diangkat berdasarkan kisahnya nyata, yang benar-benar kejadian di dunia nyata. Terlihat dari bagian pertengah film, patriarkis ini menempatkan perempuan sebagai kelas dua. Kultur masyarakat patriarkis juga menyebabkan perempuan yang meskipun sudah mendapatkan kesempatan untuk mengakses dunia publik akhirnya bertekuk lutut. Tokoh Margarate dalam film Big Eye ini gambaran-gambaran perempuan modern. Namun, kemajuan mereka tidak diimbangin dengan kesuksesan dengan hubungannya bersama suami yang pertama, lalu mendapat lagi suami yang kedua (yang bermuka dua). Dipertengahan film banyak menumbulkan konflik konstruksi gender yang dihadirkan oleh film ini tidak menempatkan perempuan sejajar dengan laki-laki, hingga politik dan ketergantungan ekonomi, terlihat saat Margarate masih bertahan atass pernikahannya bersama Walter selama 10 tahun.

Ada adegan yang lagi-lagi Margarate dan Jane melarikan diri dari rumah karena terancam kejahatan oleh Walter yang ingin membakarnya. Margarate yang posisinya sudah tidak tahan lagi atas kebohongan serta tingkah laku Walter yang menurut saya ia sebenarnya sakit. Sikap Margarate dalam menghadapi permasalahan terdiri dari tiga hal, pasrah, melakukan perlawanan, serta melakukan ekspaisme atau melarikan diri dari masalah.

Belenggu kultur patriarkis dan konstruksi gender yang demikian kuat biasanya menyebabkan tokoh perempuan lebih memilih pasrah atau eskapis. Hanya mereka yang berlatar belakang sosial tinggi, berpendidikan, serta berkarakter lah yang memiliki kemampuan untuk melawannya. Saya rasa mendekati akhiran film ini Margarate berhasil melawannya ia menggugat Walter, mencari keadilan atas yang menimpa kehidupannya, saya Margarate bisa melawannya karena peran Jane yang mendukung ibunya agar terbuka dan adil terhadap dirinya sendiri, serta peran lingkungan tempat tinggal Margarate yang baru di Hawai yang mendukung mengungkapkan kebohongan yang menimpanya.

Setelah peristiwa gila yang menimpanya itu berlalu, Margarate mendapat pengakuan terhadap karya-karya yang diciptakannya, terbebas dari tekanan batin dan reputasinya yang rusak tersebut. Ia mendapatkan kehidupannya kembali bersama putri dan karyanya. Seandainya ia tidak melawan, mungkin ia sampai saat ini tidak mendapatkan kebebasan atas hak-haknya sebagai perempuan ibu, pekerja dan pencipta karya.[]

Sumber:

  • Djajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik sastra feminis, Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Gamble, Sarah. 2004. Feminisme dan Postfeminisme. Yogyakarta: Jalasutra.