Penggusuran dan Nina Bobo Modernitas Kapitalis

jembatan
Foto: change.org

Permasalahan mengenai kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan masalah yang belum dapat diselesaikan sampai pada saat ini. Banyak pemikir yang berusaha untuk mencari cara jalan keluarnya mulai dari Adam Smith sampai Karl Marx dan para pengikutnya. Karl Marx merupakan salah satu tokoh besar yang berbicara mengenai permasalahan ekonomi politik. Pemikirannya mengenai perlawanan terhadap kapitalisme menyingkap hukum ekonomi yang dikuasai oleh kapitalis sehingga menyebabkan munculnya perbedaan kelas, kaum borjuis sebagai pemodal dan kaum buruh sebagai pekerja.

Dalam teorinya mengenai ekonomi politik, Marx berangkat dari pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Manusia harus bekerja dan berproduksi agar dapat memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Di dalam proses produksi tersebut terjadi hubungan antara tenaga kerja dan alat produksinya. Alat produksi di sini berarti alat yang digunakan orang dalam bekerja seperti mesin dan lainnya. Berbeda dengan tenaga kerja yang dimiliki semua manusia, alat produksi justru hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. Hal inilah yang membedakan manusia dengan binatang, dengan berproduksi manusia dapat mempengaruhi alam dan lingkungan sosialnya. Sehingga manusia membutuhkan hubungan timbal balik di dalam sistem masyarakat agar dapat terjalin proses produksi.

Relasi produksi membentuk perbedaan antara orang yang mempunyai alat produksi dan yang hanya memiliki tenaga produksi. Dalam sistem kapitalisme orang yang mempunyai alat produksi akan mempunyai hak yang lebih banyak dibanding orang yang hanya mengandalkan tenaga produktif. Tujuan produksi hanya memberikan kekayaan bagi pemilik alat produksi saja. Inilah yang menjadi titik berangkat dari revolusi Marx, alat produksi menurutnya tidak boleh dimonopoli agar tidak terjadi perbedaan dalam proses produksi di masyarakat.

Bagi Marx relasi produksi ekonomi masyarakat merupakan dasar (basis) dari susunan bangunan kemasyarakatan. Dasar bangunan ini menjadi penopang dari bangunan atas (superstruktur), yang mana terdapat hukum, ilmu pengetahuan, politik, agama dll. Relasi produksi mempengaruhi bagaimana berjalannya bangunan atas, begitu pun sebaliknya sehingga keduanya terjalin hubungan yang saling mempengaruhi. Sebagai contoh dalam relasi produksi dan kebijakan politik pemerintah, produksi beras yang rendah akan meningkatkan kebijakan impor beras agar dapat memenuhi kebutuhan konsumsi beras masyarakat. Teori bangunan superstruktur Marx ini menunjukkan betapa pentingnya relasi produksi yang baik dalam suatu masyarakat.

Ajaran ekonomi Marx mau melawan segala bentuk kesenjangan masyarakat yang ditimbulkan oleh kapitalisme. Kapitalisme menghisab tenaga kerja kaum buruh demi menghasilkan barang dagang (komoditas). Komoditas inilah yang kemudian menjadi pokok utama dari proses jual-beli sistem kapitalisme. Komoditas adalah barang yang pada mulanya diproduksi untukmemenuhi suatu kebutuhan manusia lalu kemudianberkembang bukan hanya untuk konsumsi sendiri akan tetapi untuk dijual.

Jadi, di satu pihak komoditas mengandung nilai-pakai dan di pihak lain juga mempunyai nilai-tukar. Besarnya nilai tukar suatu komoditas bukan ditentukan oleh nilai-pakainya melainkan dari jumlah kerja sosial masyarakat yang digunakan untuk memproduksi barang tersebut. Nilai barang akan menampakkan diri jika diperhadapkan dengan komoditas lainnya dalam proses pertukaran, mempunyai nilai tukar. Namun nilai tukar barang bisa berbeda-beda tergantung pada waktu dan tempatnya, sehingga terbentuklah uang sebagai tara umum yang tidak lagi berubah menurut waktu dan tempat.

Marx menekankan bahwa fungsi terpenting dari uang ialah sebagai ukuran pertukaran nilai. Namun Pada sistem kapitalis uang itu seakan-akan telah lepas sama sekali dari komoditas, ia mengalami eksistensinya sendiri, bahkan mendapatkan kekuasaan yang luar biasa atas manusia. Kapitalisme akan melakukan berbagai cara demi mendapatkan keuntungan terus menerus. Para pemilik alat produksi akan berlomba-lomba untuk menghasilkan uang dan menghasilkan kekayaan yang semakin banyak. Dalam sistem seperti itu pemilik modal akan terus diuntungkan. Mereka akan terus menggenjot produksi, memaksimalkan produksi dan menghasilkan inovasi-inovasi dalam produksi, sedangkan buruh akan terus bekerja untuk memberikan kekayaan bagi para pemilik modal.

Penggusuran oleh PT Poso Energy

PT. Poso Energy adalah perusahaan pembangkit listrik tenaga air yang sudah beroperasi sejak tahun 2012 di desa Sulewana kabupatan Poso. PLTA yang dibawa naungan KALLA group ini merupakan salah satu PLTA terbesar di wilayah Indonesia Timur. PLTA poso ini memiliki dua pembangkit listrik yaitu PLTA Poso I dan PLTA Poso II yang menyuplai listrik bagi daerah Poso dan Sulawesi Selatan. Sejauh ini baru PLTA Poso II yang beroperasi dengan kapasitas 195 MW (Megawatt) dan nanti pada semester kedua tahun 2019 akan dioperasikan PLTA Poso I dengan kapasitas 120 MW. PLTA ini memanfaatkan aliran sungai Poso yang berhulu dari Danau Poso yang terletak di daerah Tentena dan desa sekitarnya.

Pembangkit listrik ini membawa perubahan yang besar bagi kehidupan warga poso. Pada sekitar tahun 2000an dapat dikatakan listrik di daerah poso masih sulit, penulis sempat merasakan setiap hari listrik akan dipadamkan pada pukul 12 siang dan akan dinyalakan lagi pada pukul 5 sore, namun sekarang listrik di daerah Poso dapat dirasakan selama 24 jam lebih. Pertumbuhan ekonomi mulai dapat dirasakan secara khusus di desa Sulewana, dengan masuknya perusahaan dengan skala besar itu mampu menjaring lapangan kerja bagi warga desa dan sekitar.

Banyak warung-warung makan didirikan di sekitarnya dan kios-kios sembako juga tidak kalah dalam menawarkan jualannya. Jika dulu penghasilan dari perkebunan, pertanian dan peternakan tidak menentu, kini PT. Poso Energi menawarkan pekerjaan yang lebih menjanjikan bagi warga sekitar. Fasilitas-fasilitas publik juga turut dibangun, mulai dari sekolah, rumah ibadah sampai pada rumah sakit. Desa Sulewana yang dulunya tradisional, kini berubah menjadi desa modern, perkembangan ini juga diikuti oleh desa-desa disekitarnya terutama yang berada di sekitar Danau Poso dan aliran Sungai sampai pada PLTA.

Dengan semakin berkembang perusahaan tersebut dan semakin banyak permintaan pemenuhan kebutuhan listrik dari PLN, maka PLTA membutuhkan produksi energi listrik yang lebih banyak lagi. Secara otomatis demi mencapai target tersebut, PLTA membutuhkan aliran sungai yang lebih deras lagi. PLTA berencana untuk membuat tanggul dan melakukan pengerukan sungai poso dari hulunya. Dalam mengampanyekan rencana pengerukan dan membuat tanggul tersebut PT.

Poso Energi telah membuat video tentang gambaran desa yang lebih modern dengan dibangunnya fasilitas-fasilitas yang lebih banyak dengan tata kota yang lebih maju. Namun rencana tersebut tidak sepenuhnya diterima oleh warga sekitar, terutama yang tinggal di daerah danau Poso. Salah satu alasan penolakannya adalah karena akan direnovasinya Yondo mPamona (jembatan kayu Pamona) menjadi jembatan yang lebih modern. Yondo mPamona merupakan jembatan kayu yang sudah ada sejak lama, jembatan tersebut didirikan secara mandiri dan atas dasar kerukunan masyarakat suku Pamona pada jaman itu. Dapat dikatakan Yondo mPamona merupakan wujud nyata dari kerukunan suku Pamona.

Selain isu budaya dan isu lingkungan, dengan ditanggulnya sungai dari hulunya, hal tersebut akan membuat karamba-karamba milik warga pun ikut tergusur. Banyak warga sekitar danau poso yang hidup dari memelihara ikan di karamba-karamba dan dari rumah makan yang berdiri tepat diatas aliran sungai poso. Selain karamba, di sekitar danau poso juga dibangun waya masapi atau pagar sogili, tempat menangkap ikan sogili (sejenis sidat) yang merupakan salah satu jenis ikan khas danau Poso.

Ikan tersebut memiliki harga jual yang cukup tinggi karena sulitnya untuk mendapatkannya. Masyarakat yang berada di sekitar danau Poso masih sangat bergantung pada danau poso sebagai penyokong ekonomi mereka secara mandiri. Jika PT. Poso Energi berhasil membuat tanggul dan melakukan pengerukan, mereka akan mengambil alat produksi masyarakat sekitar danau poso. Dengan diambilnya alat produksi tersebut, masyarakat poso akan kekurangan pilihan kerja. Memang PT Poso energi menawarkan modernitas dan lapangan kerja bagi warga sekitar, namun warga sekitar hanya akan menjadi buruh yang bekerja demi kepentingan perusahaan besar. Yondo mPamona yang dulunya merupakan akses penyambung jalan, kini dimaknai warga sekitar sebagai wujud perlawanan atas diambilnya alat produksi warga oleh perusahaan raksasa.[]