Menghayati Jazz di Yogyakarta

Bukanlah hal yang mengejutkan atau rahasia umum lagi jika berbicara Yogyakarta sebagai wadah kesenian yang plural. Segala wacana kesenian, ruang kreatif, ruang kolektif, proses kreatif, dan lain sebagainya, merupakan nilai lebih dari kota Yogyakarta sebagai kota dengan citra kekayaan budayanya. Atribut sebagai kota pelajar juga memiliki andil dalam membangun segala wacana keseniannya. Mahasiswa yang melakukan migrasi dalam rangka menempuh studi tentu memiliki bekal budaya yang common sense dari daerah asalnya. Bekal budaya tersebut yang nantinya dapat ditukar dengan budaya-budaya yang lain; budaya dari luar dirinya. Artinya, pluralitas di kota Yogyakarta sungguh tidak terbatas dan begitu kaya dan mampu menciptakan konstruksi budaya baru. Oleh sebab itu banyak wacana kesenian yang menarik yang lahir dari kota ini dengan melalui medium interaksi sosial; interaksi yang melahirkan pertukaran budaya.

Salah satu wacana kesenian yang menarik di Yogyakarta adalah Komunitas Jazz Mben Senen, yaitu Komunitas musik di Yogyakarta dengan tema musik jazz. Didirikan pada Januari 2007 oleh Djaduk Ferianto dan Romo Sindhunata. Menjadi salah satu komunitas musik terbesar di Yogyakarta. Sesuai dengan namanya, komunitas ini memiliki agenda kumpul dan bermusik secara rutin setiap hari Senin di pelataran Bentara Budaya Yogyakarta. Komunitas tersebut memberikan ruang untuk segala bentuk kepentingan dalam bermusik. Seperti jam session, belajar musik jazz, mengekspresikan gagasan atau ide musikal, dan lain sebagainya. Jazz Mben Senen menjadi ruang bermusik yang luas dengan menerima banyak gagasan serta wacana kesenian, secara khusuk musik jazz. Dan tidak dipungkiri bahwa Jazz Mben Senen telah banyak melahirkan musisi-musisi dari berbagai kalangan. Bagi para anggota komunitas ini, Jazz Mben Senen merupakan wadah belajar yang paling efektif dan baik untuk mendalami musik jazz. 

Di Jazz Mben Senen saya bertemu dengan banyak rekan yang berasal dari berbagai kampus dengan disiplin yang beragam; beberapa diantaranya ada yang sudah menyelesaikan studinya. Semuanya tentu dalam kesadaran yang sama, yaitu ingin belajar musik jazz. Kesadaran tersebut yang akhirnya membuat konstruksi sosial di Jazz Mben Senen menjadi begitu interaktif, informatif, dan edukatif. Banyak hal yang mendasar mengapa mereka ingin terlibat di dalam lingakaran sosial Jazz Mben Senen. Selain pada hasrat untuk belajar musik, ada juga faktor seseorang yang ingin membangun relasi sesama musisi. Tentu saja untuk kepentingan wacana proses kreatif diluar komunitas; baik yang komersil ataupun yang tidak komersil.

Setidaknya itulah yang saya renungkan kembali ketika saya berada di dalam ruang komunitas Jazz Mben Senen. Ada banyak keuntungan yang saya dapatkan ketika berada di dalam lingkaran komunitas tersebut. Mulai dari progres kapasitas bermusikal saya, bertambahnya relasi sesama musisi, ruang untuk berkesenian, dan wacana proses kreatif. Pengalaman saya selama mengikuti arus Jazz Mben Senen membuat saya menyadari akan sebuah konstruksi yang dominan dalam kaitannya dengan performa Jazz Mben Senen. Konstruksi tersebut seolah menyampaikan bahwa skema jazz jogja berada pada titik pusaran yang sentral serta pemberdayaan musisinya yang sentral pula.

Yang saya maksud sentral disini adalah hegemoni yang terstruktur dalam komunitas Jazz Mben Senen. Hegemoni yang terbentuk nampaknya sedikit menyampaikan narasi resisten tentang identitas eksklusif musik jazz. Selain pada aspek hegemoni Jazz Mben Senen, peran intelektual disini juga dirasa penting untuk dicermati. Intelektual dalam Jazz Mben Senen mampu melahirkan musisi dengan persepsi atau pandangan yang sama. Pandangan tersebut meliputi etika bermusik, teknik, dan aspek-aspek musikal lainnya.

Konstruksi hegemoni musik jazz di mata publik merupakan buah dari warisan kolonialisme. Jazz muncul di Indonesia sebagai produk budaya metropole, khususnya Belanda dan Amerika yang masuk dalam dunia kebudayaan di Indonesia (Sutopo, 2012). Saat itu jazz ditampilkan dalam ruang sosial yang elit; konteks masyarakat elit disini adalah pasa masa kolonialisme. Jazz dimainkan di panggung yang seolah merepresentasikan kelas-kelas masyarakat. Musik tersebut dibawa masuk ke Indonesia oleh Belanda sebagai produk budaya motropole yang disajikan di panggung seperti Gedung Istana (Gedung Societet), serta oleh mereka yang memiliki relasi dekat dengan orang Belanda (Sutopo, 2010).

***

Jika dilihat kembali tentang perjalanan jazz di Indonesia, maka tidak dipungkiri bahwa pembentukan skema jazz di tanah air tidaklah lepas dari pandangan bias elit. Persepsi publik tentang kesan elit dari musik jazz merupakan salah satu warisan dari wacana pasca kolonial. Bagiamana jazz itu sendiri muncul sebagai produk budaya metrople yang terkonstruksi di dalam ruang apresiasi yang eksklusif seperti Gedung Istana (Societet) dan lingkaran relasi yang diisi oleh orang elit pula; relasi dengan orang belanda. Maka tidak heran jika kesan eksklusif selalu melekat pada musik jazz.

Saya mulai mengikuti arus skema jazz di Yogykarta ketika secara intens mulai terlibat aktif dalam komunitas Jazz Mben Senen pada awal tahun 2015. Komunitas ini memiliki konsistensi yang sangat baik dalam menjaga perfomativitasnya sebagai sebuah komunitas. Agenda setiap hari senin di Bentara Budaya Yogyakarta sudah menjadi hak milik bagi komunitas ini untuk menampilkan eksistensinya kepada publik. Selalu ada orang yang mengapresiasi agenda mingguan komunitas ini. Januari 2020 komunitas Jazz Mben Senen genap berusia 10 tahun. Artinya sudah satu dekade komunitas ini turut andil dalam mewarnai narasi pergerakan wacana kesenian — secara khusus musik jazz — di Yogyakarta.

Dari ruang komunitas, akhirnya dapat saya lihat bagaimana gerak atau skema musik jazz di Yogyakarta. Pergerakan musisi jazz di Yogyakarta memang secara mandiri berakar pada ruang komunitas. Namun diluar komunitas sendiri juga terdapat wacana kapitalisme yang mempengaruhi dinamika komunitas tersebut. Dalam hal ini keberadaan pemodal seperti café atau resto juga memiliki peran dalam proses penyediaan ruang serta upah (Sutopo, 2012). Bourdieu dalam The Field of Cultural Production (1993) menjelaskan bahwa dalam konteks ranah seni di Prancis, seniman adalah agen yang kaya akan kapital budaya, namun kurang dalam kapital ekonomi.

Implikasi tersebut dapat dilihat saat ini dengan fenoma reguler dan jam session di café atau resto yang mencerminkan akan wacana komodifikasi jazz dalam lingkup kecil; disini lingkup kecil diartikan secara ruang, lingkup besar merepresentasikan ruang seperti panggung event yang megah, misalnya Java Jazz. Komodifikasi dari ruang kapital melahirkan arena pertukaran secara simbolik. Dalam artian, musisi mendapatkan ruang untuk berekspresi secara komersil, sedangkan ruang kapital mendapatkan hiburan guna menaikkan impresi dan promosi.

Dari situ saya melihat terciptanya wacana kesenian diluar komunitas. Komunitas sebagai wadah untuk bertemunya musisi-musisi dapat menciptakan wadah baru seperti di café, resto, hotel, dan lain sebagainya, dengan kelebihan komodifikasi atau dengan kata lain adanya upah. Jika komunitas adalah ruang sosial yang non-profit, maka dengan adanya reguler musisi tetap memiliki wadah sosial yang profit.

Pergerakan komunitas telah menciptakan ruang-ruang baru. Mulai dari maraknya reguler, event musik, serta unit kegiatan mahasiswa di kampus-kampus yang berorientasi pada musik jazz; seperti Sadhar Jazz dari Universitas Sanata Dharma, Gama Jazz dari Universitas Gajah Mada, Kompazz dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sumber daya manusia yang terlibatpun juga tidak jauh dari lingkaran musisi-musisi yang berada di komunitas.

Perubahan-perubahan dalam skala lokal (Yogyakarta) nampaknya juga terjadi karena peran dari komunitas sendiri yang berhasil menciptakan wajah kesenian yang dipandang eksklusif — dampak dari warisan pasca kolonial —menjadi kesenian yang ramah dan jauh dari kesan eksklusif. Perubahan yang dipicu dari interaksi sosial komunitas, sampai akhirnya ke arena pasar kapital yang mewadahi musisi-musisi untuk berinteraksi dan berekspresi. Komunitas Jazz Mben Senen menampilkan wajah musik jazz sebagai musik rakyat dengan konstruksi sosial yang relevan dan kontekstual.

***

Warisan pasca kolonial tentang musik jazz sebagai musik elit dan eksklusif, tentu membentuk stigma publik akan pandangan tersebut. Lewat event atau festival jazz yang sering diselenggarakan di Indonesia seolah menunjukan akan wacana komodifikasi seni yang dianggap elit, sehingga yang terjadi adalah mahalnya tiket konser-konser jazz. Seperti yang dicontohkan pada Java Jazz Festival.

Tiket konser yang nampaknya hanya bisa diakses oleh beberapa orang saja, telah membentuk pandangan akan relasi musik jazz dengan masyarakat kelas. Kelas dalam masyarakat merepresentasikan soal jazz yang hanya bisa diakses oleh orang yang berada dalam kelas tertentu. Dari situ maka tercipta hegemoni yang semakin melegitimasi bahwa musik jazz adalah musik elit dan eksklusif.

Disini perlu dicermati kembali soal konsep hegemoni untuk menjelaskan narasi diatas. Menurut Yasraf Amir Piliang (2018), hegemoni memiliki nilai yang spesifik dan dominan untuk mengatur, mengontrol keseluruhan proses kehidupan di dalam masyarakat.

Hegemoni adalah sebuah proses, bukan merupakan sesuatu yang final. Hegemoni merupakan sesuatu yang sedang dan akan terus berjalan. Ia adalah pengalaman, relasi, dan aktivitas yang kompleks. Hegemoni secara terus menerus diperbaharui, dicipta ulang, dipertahankan, dan dimodifikasi. Ia juga ditentang, dibatasi, diubah, dan ditantang oleh kelompok penekan. Setiap proses hegemoni harus siaga (alert) dan tanggap (responsive) terhadap oposisi yang mengancam dominasinya (Piliang, 2018).

Ngayogjazz muncul sebagai hegemoni tandingan dalam mendobrak pandangan eksklusivitas musik jazz. Hal tersebut dikarenakan semangat serta pengemasan estetika Ngayogjazz yang dipertunjukan di desa-desa. Ngayogjazz dikemas begitu apik dengan menyampaikan narasi bahwa musik jazz bisa dan mampu bertransformasi sebagai musik rakyat sekalligus berhak diakses oleh masyarakat desa, petani, peternak.

Dalam wacana kajian budaya, memang Ngayogjazz berupaya untuk menyampaikan narasi yang membalik dominasi festival jazz yang prestisius. Dalam artian berbayar dan berada di ruang yang normatif (concert hall, stadion olahraga, dll). Hegemoni yang terbentuk bahwa musik jazz adalah musik yang prestisius juga karena waris pasca kolonial yang menjamur dan terkonstruksi dengan rapi dalam pandangan masyarakat. Hal itu sengat wajar, karena di dalam hegemoni, diri kita dituntun dan diarahkan secara halus untuk menerima bahwa sesutatu adalah alamiah dan apa adanya. Hegemoni merupakan kepemimpinan kultural yang menuntun kita di dalam keseharian (Piliang, 2018).

Masyarakat tidak bisa menolak hegemoni yang menyatakan bahwa musik jazz adalah musik yang eksklusif. Hegemoni hadir secara halus untuk menggeser pandangan kita akan hal-hal yang bisa menjadi opsi pandangan alternatif. Pandangan yang muncul secara dominan akan membentuk hegemoni secara otomatis. Ketika pandangan yang dominan tersebut muncul, maka kehadiran hegemoni tandingan tidak bisa diintervensi. Hegemoni tersebut akan saling tumpang tindih. Tergantung hegemoni mana yang digunakan, dan untuk wacana apa hegemoni tersebut dimunculkan.

***

Jazz merupakan salah satu musik yang bersinggungan dengan berbagai wacana. Bisa dicermati dalam perspektif pasca kolonial, kapitalisme, kajian budaya, kajian seni, dan lain sebagainya. Jazz Mben Senen lahir sebagai ruang kultural yang didalamnya terjadi proses pertukaran gagasan, proses kreatif secara kolektif, dan berbagai wacana kesenian; secara khusus musik jazz. Ngayogjazz juga muncul sebagai agenda perhelatan festival jazz di Yogyakarta. 

Melalui wacananya yang menarik, Ngayogjazz seolah ingin mendobrak pandangan bahwa musik jazz adalah musik yang eksklusif dan prestisius. Dihadirkan dalam ruang masyarakat pedesaan membuat Ngayogjazz mampu melegitimasi bahwa jazz bisa untuk bertransformasi sebagai musik rakyat dan diakses secara bebas oleh rakyat. Dengan menggunakan pengemasan estetika yang semakin memperkuat citra Ngayogjazz adalah musik rakyat, sama seperti musik tradisional pada umumnya sekaligus tidak terbelenggu pada citra eksklusif dan prestisius.

Sumber

  • Sutopo, Oki R. 2012. Transformasi Jazz Yogyakarta: Dari Hibriditas menjadi Komoditas. Jurnal Sosiologi MASYARAKAT. Vol.17-No.1. Januari. Hal.65-84. Yogyakarta: Pusat Kajian Sosiologi, LabSosio FISIP-UI.
  • Sutopo, Oki Rahadianto. 2010. Dinamika Kekuasaan dalam Komunitas Jazz Yogyakarta 2002-2010. Jurnal Sosial Politik (JSP). Vol.14-No.1. Juli. Yogyakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada.
  • Jones, Steve. 2006. Antonio Gramsci. New York: Routledge.
  • Piliang, Yasraf Amir. 2018. Teori Budaya Kontemporer. Yogyakarta: Aurora