Menerka Pertukaran Tanda Dalam Pantomim Wanggi Hoediyatno

pantomim
Foto: beritabaik.id

Hampir satu dekade saya berkecimpung dalam seni pertunjukan. Awal mulanya saya belajar dari Unit Kegiatan Mahasiswa Kafha: Laboratory for Humanity and Culture di Universitas Paramadina yang kerap menyajikan naskah terkait isu-isu kemanusiaan. Sesekali saya juga terlibat proses bersinggungan dengan kelompok kesenian yang menyuarakan narasi kemanusiaan melalui teater, tari, musik, performing art di Jakarta-Garut-Pangandaran-Sumatra. Keterlibatan saya sebagai aktor dengan kelompok T-Ta Paramadina misalnya dalam sebuah pertunjukan teater-tari berjudul “Siti Soendari.

Pertunjukan ini dikemas dengan gaya satire, bercerita mengenai tokoh yang mempunyai andil pada Kongres Perempuan Indonesia (KPI). Setelah pertunjukan selesai salah seorang penonton menghampiri saya dan bertanya,“kamu di panggung tadi sedang ngapain sih?”. Mendapat pertanyaan tersebut saya merasa gelisah, bingung dan heran. Karena ‘pengalaman kebingungan’ yang dirasakan penonton tersebut bahkan menjangkiti diri saya sendiri.

Pertanyaan penonton seperti ini bisa berlaku untuk aneka ragam seni (pertunjukan) tradisi atau kontemporer. Ucapan yang senada muncul di benak saya tatkala menyaksikan peristiwa seni pantomime (Arbib, 2012). Khususnya yang ditampilkan oleh seorang seniman di Bandung, yakni Wanggi Hoediyatno (selanjutnya disebut Wanggi) telah memberi kesan tertentu bagi saya hingga menghantarkan pada kegetiran yang mendalam beriringan dengan munculnya pertanyaan-pertanyaan mengenai apa-apa saja yang disajikan di dalam pertunjukannya. Saya menemukan kenyataan-kenyataan bahwa terdapat kritik sosial dalam pertunjukan pantomim Wanggi.

Pantomim barangkali seni pertunjukan yang dapat berkomunikasi dengan penonton dari berbagai lapisan masyarakat manapun, terlebih pantomim yang identik dengan unsur-unsur komikal atau komedi dengan mudahnya dapat dijadikan bahan tertawaan. Dalam perkembangannya pantomim untuk hiburan itu menjadi suatu seni pentas tersendiri (Adjib, 1985). Pantomim seringkali merupakan perkenalan pertama tentang seni peran yang perlu dimiliki seorang aktor. Di sisi lain, pantomim sebagai bentuk seni pertunjukan masih dikesampingkan atau hanya sebagai pelengkap bahkan ada anggapan jika seseorang memilih sebagai pantomimer, karirnya dianggap remeh. Pantomim memang sangat langka sebagai wujud ekspresi seniman, demikian pula penontonnya pun tidak begitu melimpah sebagaimana pertunjukan lainnya. Upaya untuk memasyarakatkan pantomim sudah ditempuh oleh senimannya atau pantomimer melalui pentas-pentas individual maupun bersama-sama dan membuat kelompok (Iswantara, 2007).

Begitu halnya yang dilakukan oleh Wanggi dengan berbagai project dan konsistensinya terus mencoba mengangkat lagi pantomim, bahkan ditampilkan di ruang publik dan ruang digital. Selain itu, pada tahun 2011—tentu saja setelah perjalanan panjangnya dari sejak 2006—Wanggi juga menjadi delegasi seniman pantomim Indonesia pada acara World Mime Organization yang berpusat di Beograd, Serbia. Dari sanalah, dia kemudian berinisiatif menyusun projeknya “Nyusur Histori Indonesia”. Selain itu, dia sebagai inisiator aksi Kamisan di Bandung. Alasan Wanggi menekuni pantomim, menurut pengakuannya bahwa:

“Pantomim itu seni bahasa tubuh yang sunyi berbahasa universal, ada sebuah pesan yang tersembunyi dari tiap gerak dan imajinasi dalam kecepatan dan tempo tertentu, bukan sekadar lucu-lucuan. Pantomim itu bahasa perdamaian, bahasa untuk semua manusia yang hidup di bumi ini”

Sebagaimana sebuah lakon yang ditampilkan oleh Wanggi bersama Indonesian Mime Artist Association dan beberapa komunitas lain se-Bandung Raya, menggelar aksi mengingatkan pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Babakan Siliwangi. Aksi yang terdiri dari komunitas pantomim, musik, teater, dan tari tersebut menunjukkan kreatifitasnya masing-masing sesuai tema yang diusung dan tidak ada orasi-orasi karena pada setiap aksi akan merefleksikan fenomena salah satu ruang terbuka hijau yang terancam oleh maraknya pembangunan di Bandung.

Setiap pantomim yang tampil dalam aksi tersebut menyajikan ekspresi wajah yang berkerut. Ekspresi wajah itu menurut Wanggi melambangkan individu yang bertarung dengan ancaman terhadap hutan kota Babakan Siliwangi (Alam, 2018). Dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2012, Wanggi sindir isu tentang busung lapar karena kekurangan gizi lewat pertunjukan pantomim berjudul “Sehat Itu Milik Siapa?”. Dia ingin mengingatkan masyarakat soal pentingnya gizi bagi anak.

Pantomim yang hadir membawa narasi kemanusiaan dalam aksi-aksi tertentu tidak bisa dianggap remeh, terlebih hingga mengancam nyawa. Sebagaimana peristiwa aksi tentang isu gender dan demokrasi yang terjadi pada 19 Oktober 2019 di Chile. Seorang perempuan pemain pantomim jalanan berusia 36 tahun ditangkap pada sebuah protes dan dibawa pergi oleh anggota kepolisian Carabineros. Keesokan harinya, tubuhnya yang tak bernyawa ditemukan tergantung di pagar taman dengan tanda-tanda pemerkosaan dan penyiksaan. Namanya adalah Daniela Carrasco, yang dikenal oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai La Mimo (Mime).

Hal yang senada berupa interogasi dari pihak kepolisian kerap dialami Wanggi setiap aksi pantomim yang dilakukannya. Berkaca dari kasus di atas, setidaknya timbul pertanyaan bagi saya, apakah pantomim yang mengemban kritik sosial mampu menciptakan sebuah perubahan? Barangkali narasi kemanusiaan dalam pantomim susah ditangkap atau bisa diterima sejauh kondisi tertentu? Sebuah karya seni penting dipandang sebagai suatu objek yang harus dipahami secara keilmuan. Keberhasilan dan kelemahan suatu karya seni tercermin dalam sebuah kritik (Iswantara, 2008). Di sisi lain karya seni hadir diperuntukkan kepada sebagian anggota masyarakat tertentu saja yang kebetulan berminat sama dan berselera sejenis.

Tubuh dan tanda dalam pantomim

Pada dasarnya menonton suatu seni pertunjukan pantomim dapat meringankan kerja pikiran dan perasaan kita daripada sekadar membaca teks-teks pemikiran filsafat manusia yang melahirkan narasi tentang ide-ide kemanusiaan. Namun, apakah kita dapat sepenuhnya menyerap atau berkomunikasi dengan seni pantomim itu adalah soal lain, karena tergantung kepekaan kita sebagai penonton dalam menangkap ide-ide yang ditawarkan dan simbol-simbol yang hadir secara visual-audio di dalam seni pantomim tersebut.

Barangkali jika dirasa perlu, bolehlah kita terlebih dahulu melakukan pembacaan teks-teks yang memuat ide-ide kemanusiaan sebelum menyaksikan pertunjukan pantomim sehingga kita akan mampu mengetahui seberapa jauh intensitas pantomimer Wanggi terhadap keberhasilan pertunjukannya. Hal ini penting sebab siapa lagi yang harus memperhatikan nasib seni pantomim selain pihak-pihak yang berkecimpung dengan dunia seni pertunjukan.

Ketika berbicara mengenai pemaknaan dalam bahasa, Saussure mengatakan bahwa tanda kebahasaan terdiri dari dua bagian yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain yakni penanda (signifier) atau squens bunyi dan petanda (signified) atau konsep yang mengacu pada bunyi tersebut. Relasi antara petanda dengan penanda bersifat arbitrer. Di samping itu, bahasa juga memiliki kemampuan mencetuskan makna yang tak terbatas sebab dipakai alat untuk komunikasi. Bahasa sebagai sistem tanda dipergunakan dalam bentuk-bentuk teater kecuali pantomim dan balet (Sahid, 2004). Sedangkan Wanggi memaknai pantomim itu sebagai seni bahasa tubuh yang sunyi berbahasa universal, ada sebuah pesan yang tersembunyi dari tiap gerak dan imajinasi dalam kecepatan dan tempo tertentu.

Sistem tanda yang terkait dengan komunikasi melalui bahasa tubuh diuraikan penjelasannya oleh Antonin Artaud yang memimpikan suatu ‘bahasa teater yang murni’ yang terbebas dari wacana verbal. Teater Brecht juga memprioritaskan gesture dalam menciptakan representasi teater yang baru sehingga teater epik bersifat gestural. Lebih lanjut Walter Benjamin menyebut gesture adalah materinya, sedangkan teater epik adalah penggunaan praktisnya. Berbagai studi tentang tubuh manusia (human body) sebagai alat komunikasi kinesik (kinesics), sebagaimana Patrice Pavis mengatakan bahwa fungsi gesture dalam teater terutama adalah untuk mensketsa situasi ucapan, untuk menjadi deiksis, dan merupakan suatu tanda yang mengindikasikan presensi panggung dan presensi aktor. Sederhananya dapat dikatakan bahwa gesture menetapkan modus bodi yang nyata, panggung, dan aksi panggung dalam ruang (Sahid, 2004).

Sebagaimana disebut di atas bahwa simbol-simbol dihadirkan dalam seni pertunjukan pantomim. Artinya segala simbol yang dipresentasikan kepada penonton di dalam kerangka pantomim adalah suatu “tanda” (sign) yang memiliki makna artifisial atau makna yang telah ditetapkan sebelumnya. Di sisi lain, simbol yang dipresentasikan dalam pertunjukan pantomim sama sekali tidak signifikan sehingga bersifat ambigu. Bahkan kemungkinan terburuk yang terjadi apabila pantomimer gagal menyusun sistem tanda maka pertunjukan itu sendiri tidak akan dipahami oleh penonton. Penonton akhirnya dituntut untuk melakukan spekulasi terhadap pencarian makna-makna yang ditampilkan. Terlepas dari kesulitan-kesulitan mencari arti adegan pantomim, setidaknya terlihat bahwa bahasa tubuh menjadi sistem tanda dan produksi makna.

Berbeda halnya ketika kita menonton video tutorial Master Chef Indonesia, sebuah tontonan tata cara memasak yang dipandu langsung oleh si koki menyampaikan secara komunikatif dengan bahasa verbal dan memeragakan secara teknis dengan bahasa tubuh dan dibantu alat kamera sehingga penonton digiring menuju pemaknaan yang disebut elemen-elemen semiologis dalam istilah Barthes. Sebaliknya, dalam pantomim tidak ada alat untuk membimbing penonton untuk memfokuskan perhatiannya terhadap proses-proses tanda sehingga sulit mencapai koherensi pemaknaan yang utuh. Alasannya karena penonton menyimak secara acak sekaligus digempur oleh spektakel yang berserakan dalam pertunjukan pantomim. Misalnya, seringkali tidak mudah untuk membedakan antara “gerak”, “gesture”, dan “mimik wajah”. Oleh karena itu sulit membedakan apakah ekspresi wajah berkerut sebagai penanda individu yang bertarung dengan ancaman terhadap hutan kota atau malah ekspresi wajah berkerut itu seperti orang yang sedang kebelet pipis.

Sejumlah tanda-tanda yang berada dalam seni pantomim perlu disusun sedemikian rupa, sehingga menolong menciptakan makna. Seni pertunjukan senantiasa berpijak pada daya imajinatif si pelaku seni. Oleh karena itu, daya imajinatif subjektif ini direpresentasikan dengan sistem tanda. Dalam pantomim, daya imajinatif itu tampak melalui ekspresi, mimik, gerak, gesture, kostum, make-up, iringan musik, properti, tata lampu, artistik panggung dan lain-lain.

Konseptualisasi daya imajinatif pada sebuah adegan pantomim akan tersampaikan apabila terjadi komunikasi intersubjektifitas antar pantomimer dengan penonton guna memperoleh kesepakatan bahwasanya adegan ekspresi wajah berkerut adalah bentuk perlawanan. Di sisi lain, penggunaan dekoratif (properti, latar, lampu, dan lain-lain) sebagai faktor pendukung kontekstualisasi menjelaskan dimensi ruang dan waktu juga dapat mengakomodasi sebagian besar sistem tanda dalam pantomim (Sahid, 2004). Menurut Veitrusky, figur aktor adalah unitas dinamik sekumpulan utuh tanda-tanda yang pembawanya berwujud tubuh, suara, gerakan-gerakan, item-item mulai dari kostum sampai set (Sahid, 2004). Dengan begitu seorang aktor melalui kemampuan aktingnya berkontribusi penting terhadap mengantarkan ke proses pemaknaan, sekalipun sifat dan jenis gesture telah (dikondisi, dikodifikasi, dimodifikasi) oleh konvensi-konvensi seni pertunjukan pantomim.

Wanggi dan nilai kemanusiaan

Pantomim sebagai sebuah kenyataan yang tidak berdiri sendiri melainkan merupakan akibat dari berbagai faktor, maka penjelasan tentang pantomim tidak dapat diberikan hanya dari satu sudut pertimbangan saja seperti pertimbangan segi keindahan semata, tetapi juga melibatkan sudut pertimbangan semiotika dan faktor-faktor pendukung lain.

Satu hal yang barangkali cukup jelas yaitu adanya etos pada orang bersangkutan tentang kaitan suatu tindakan berkesenian dengan pandangan hidupnya terhadap upaya implementasi bahasa perdamaian. Dengan kata lain, hal yang dilakukan Wanggi Hoediyatno dan penggunaan seni pantomim, agaknya akan sulit terjadi jika itu tidak bertitik-tolak dari nilai-nilai kemanusiaan.[]

Sumber:

  • Alam, M., & Nilan, P. (2018). The campaign to save the bandung city forest in Indonesia, Journal Indonesia and the Malay World,
  • Arbib, M. A., How the Brain Got Language: The Mirror System Hypothesis (London: Oxford University Press, 2012).
  • Iswantara, N., Wajah Pantomim Indonesia Dari Sena Didi Mime Hingga Gabungan Aktor Pantomim Yogyakarta, (Yogyakarta: Media Kreatifa, 2007),
  • Iswantara, N., diktat perkuliahan kritik teater I (Yogyakarta: ISI Yogyakarta, 2008).
  • Sahid, N., Semiotika Teater, (Yogyakarta: ISI Yogyakarta, 2004).
  • Sunardi, St., Bahan Bacaan Mata Kuliah Dasar-dasar Kajian Budaya.