Lebih Grotesk, Sosok Joker Tanpa Batman

Film Joker menjadi perbincangan seru sepekan terakhir setelah tayang di bioskop pada 2 Oktober 2019. Sebelumnya, film Joker memenangkan Golden Lion di Venice International Film Festival, film ini juga telah melalui gelombang pujian dan kontroversi. Beberapa kritikus menyebutnya “representasi sempurna dari zaman kita”. Komentar lain, seperti yang tersebar di sosial media, menertawakan dan menyebutnya sebagai lelucon yang kejam. Banyak yang mempertanyakan efek kekerasan dalam film, sebagian juga berkomentar bahwa karakter Joker besutan sutradara Todd Phillips ini menggambarkan sisi lain masyarakat kita saat ini.

Film Joker berpusat pada seorang badut dan komedian Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), tinggal bersama ibunya yang sakit-sakitan. Komedian ini mengalami masa sulit, terjebak dalam Kota Gotham yang timpang, antara penguasa yang kaya dan masyarakat yang dilanda kemiskinan dan kekerasan. Fleck juga memiliki kondisi mental yang membuatnya tertawa tak terkendali. Kondisi itu mengharuskannya menemui psikiater untuk mendapatkan obat. Setelah hidupnya mulai berantakan, Fleck berusaha mengubah hidupnya dengan cara yang lain.

Phoenix tidak sendirian dalam menciptakan karakter Joker ini. Sutradara Todd Phillips menciptakan dunia di mana sosok yang terjepit seperti Fleck dapat muncul begitu saja. Saat di jalan-jalan kotor Gotham sedang riuh karena situasi politik sedang kacau, ia bekerja sebagai badut. Fleck menerima sedikit perhatian dari komunitasnya (para badut), dan terus-menerus diolok-olok oleh pahlawannya, seorang pembawa acara TV, Murray Franklin, diperankan secara fantastis oleh Robert De Niro.

Bisa dikatakan bahwa Joker bukan sepenuhnya orang jahat yang simpatik. Orang dapat melihat semua kekerasan yang dia lakukan itu mengerikan, Fleck juga hampir menemukan kesenangan dalam melakukan kekejaman. Bagian yang menakutkan dari hal ini adalah bahwa siapa pun dapat menjadi Joker berikutnya karena orang-orang mengerikan seperti dia diciptakan oleh masyarakat dan kondisi politik yang kacau. Menariknya, banyak orang telah datang ke bioskop menyaksikan kehadiran film Joker entah apapun ekspektasi yang mereka bawa.

Dunia yang dihuni Fleck adalah dunia yang suram. Kota Gotham sangat kotor, kejam dan serba cepat. Media juga memainkan peran utama dalam menciptakan kekacauan, melanggengkan kekerasan kelas yang hanya mengarah pada orang-orang yang marah dan kurang beruntung. Orang-orang itu bertindak berdasarkan janji-janji media. Penggambaran Gotham dan semua kesuraman itu justru membuat kita semakin merasa relate. Gotham sebagai versi suram Kota New York (atau Jakarta?) menambah pesan film tersebut tampak lebih nyata.

Kesulitan Arthur Fleck juga dipercaya oleh masyarakat di kota Gotham, bahkan oleh kita yang menontonnya. Sebagai badut pesta, Fleck merawat ibunya yang sakit di apartemen kumuh mereka. Dia tidak mengenal ayahnya, tetapi dia memiliki banyak pengganti sosok ayah, dari rekan kerja yang memberinya senjata untuk melindungi dirinya, hingga pembawa acara TV Murray Franklin, sosok yang membuat Fleck berfantasi tentang pelukan kebapakan dan penerimaan posisi ayah karena ucapan Murray, “Aku akan menyerahkan semua ini untuk memiliki seorang putra sepertimu.” Akan tetapi Murray menipunya untuk keuntungan acara TV-nya semata. Dinas sosial yang menyediakan Fleck obat-obatan ditutup oleh pemerintah, kewarasan Fleck terus menurun.

Hadir Tanpa Batman

Bagaimana mungkin film Joker tanpa Batman? Joker versi 2019 ini menjawab pertanyaan itu dengan dengan menjadikan Joker antihero yang tidak disengaja menginspirasi orang-orang yang tertindas di Gotham untuk bangkit melawan penjahat Wall Street dan pegawai negeri “fasis” yang duduk di Balai Kota Gotham. Joker tidak membutuhkan Batman karena saat ini dia adalah pahlawan, sebagai suara kemiskinan, pengabaian, dan penindasan. Kebalikan dari representasi Batman sebagai ketertiban, kekayaan dan kekuasaan negara.

Hubungan Joker-Batman telah lama memiliki unsur perkelahian yang luar biasa. Tapi perseteruan panjang mereka bukan hanya tentang jahat versus baik, atau bahkan tentang pukulan seorang penjahat terhadap seorang pembasmi kejahatan. Richard Hendenfel, dalam buku The Joker: A Serius Study of The Clown Prince of Crime (2015), menyebutnya sebagai “hubungan mereka tentang perjuangan yang jauh lebih dalam, Batman sebagai perwakilan kelas penguasa dihadang oleh Joker yang ingin menghancurkan sistem kelas”. Dalam konteks itu, dibutuhkan lebih dari sekadar kematian Batman atau Joker. Batman dapat terbunuh atau terbuka kedoknya, akan tetapi kekuatan yang diwakilinya akan tetap berkuasa. Jika Joker mati, massa juga tetap ada. Jadi, bagi Joker, tujuan jangka panjangnya bukan untuk menghancurkan Batman, tetapi untuk mengakhiri sistem yang dilindungi Batman.

Sulit membayangkan seorang Joker tanpa Batman, Joker yang telah kita cintai selama bertahun-tahun hadir sebagai tokoh jahat yang kacau balau tandingan bagi kebaikan Batman (sisi tak tergoyahkan dan sah menurut hukum), menjadi sosok yang jengah dengan represi menjadi antihero populis yang masyarakat kita butuhkan sekarang. Joker sebenarnya sedang menawarkan ironi kondisi masyarakat saat ini, sekaligus memberikan sesuatu yang segar, menarik, berbahaya, dan tak dapat disangkal menghibur. Mungkin membuat sebagian dari penonton tidak nyaman, merasa baik atau buruk, dan tidak diragukan lagi film Joker akan tetap berada dikepala lama setelah tirai ditutup, sebagaimana film hebat lainnya.

Film Joker menarik karena caranya melihat sisi gelap masyarakat. Film ini perlu digaris bawahi, bukan karena tindakan kekerasan yang dilakukan, tetapi karena masuk akal bahwa sosok seperti Joker ada di dunia modern kita saat ini. Joker datang untuk membuat kita berpikir dengan cara terbaik.[]

*Artikel ini pertama kali terbit di Medium.