Ketawa Ala Yue Minjun

Yue Minjun, Free At Leisure no. 11, oil on canvas, 218 x 299 cm.

Jika seseorang tidak lupa, tawa dan main-main pada masa kecil — meskipun hidup serba kekurangan-, bisa berubah menjadi rasa kangen saat dewasa. Membentuk semacam ruang kembali sekaligus pengingat bahwa kondisi alami diri pernah hadir di sana.

Kita bisa mengingat dan merasakan kembali kapan saja. Sebelum kepanikan fana dan manipulatif membikin kita terkecoh. Tentu saja, banyak yang tidak percaya masalah serumit saat ini, bisa — setidaknya-ditarik pelan-pelan dengan urusan tawa dan main-main. Baik, mari lihat bagaimana kepanikan itu sebenarnya kelalain kita dari soal simpel saja, kalau diparafrasekan mungkin berbunyi, “kurang ketawa, kebanyakan serius.”

Kepanikan di media sosial, di jalan, di pasar, di khotbah jumat, di pengajian, bisa membuat orang tiba-tiba kesal, benci dan menghujat. Dipicu kasak-kusuk, peristiwa viral, ataupun sindiran tetangga. Kita bisa saja mengendalikan diri untuk tidak ikut campur dan meyakinkan diri hidup bakal baik-baik saja asal pikiran adem. Di balik usaha meredam itu, ada pertanyaan besar, sejauh mana hidup kita bisa asik-asik saja di tengah ketegangan di sana sini?

Seorang yang suka ngoceh di media sosial ketika istirahat malam, paginya bisa terjengkang digedor polisi karena ocehannya yang disangka menyudutkan orang lain. Bapak-bapak di pasar tidak saling tegur sapa setelah debat soal agama dengan tetangga lapaknya. Ada satu kelompok, memaki di depan muka kelompok lainnya dengan kata-kata yang dipenggal begitu saja dari keyakinan golongannya.

Ada yang tersinggung. Ada yang tidak mau tau. Ada yang diam di balik layar kebijaksanaannya sendiri. Ada bom yang dirawat di balik ketenangan dan cekcok itu. Semakin membesar, menunggu meletus kapan saja di tengah-tengah pertunjukan yang semakin gerah.

Lalu apa yang sebenarnya terlewat? Apa yang luput?


Yue Minjun, perupa yang selalu tertawa, sejak lama telah mengingatkan pentingnya tawa gembira seperti apa yang oleh Democritus, The Laughing Philosopher, disebut sebagai euthymia (cheerfulness).

Democritus yang kuno, Yue Minjum yang pop, punya metode yang sama melihat kepanikan manusia dalam menghadapi tragedi hidupnya. Ketakutan, tegangan sosial, konflik, keseriusan yang dipaksakan, hanya dapat dihadapi dengan tawa gembira atau humor.

Humor bukan dalam artian pertunjukan saja, tapi juga sebagai metode berpikir. Humor bukan dalam artian defensif, tapi aktif sebagai alat menyerang kemapanan yang menekan.

Pada karya Lunch on the Grass misalnya, sang maestro menuangkan kedekatan satu sama lain pada berbagai potret dirinya sendiri di atas rumput yang hijau. Kedekatan personal dengan dirinya sendiri yang paling dasar. Meskipun secara detil karakternya terlihat berbeda, mereka masih dalam tataran yang sama, berada di bawah dan optimis melihat ke depan seolah mengamini realitas diri sendiri tanpa sibuk terganggu tekanan dalam bentuk apapun.

Melihat karya Minjun kita bisa ikut senang. Seolah kita dibantu atau diajak mengakui diri sendiri terlepas dari apa jenis pekerjaan, status sosial, pendidikan, ataupun kesalahan yang pernah kita lakukan. Minjun mengajak bebas melakukan apapun, asal berani menerima realitas kita sendiri. Warna merah pada kulit Minjun dalam setiap lukisannya misalkan, menggambarkan bagaimana hidup seorang pekerja keras. Atau medium air dan langit yang sering muncul juga pada lukisannya, mengingatkan bagaimana cairnya kehidupan ini (misal pada Water, 1998 dan Sky, 1997). Atau posisi terhimpit yang membuat kita tidak bisa melakukan apapun selain melawan dengan tawa (misal pada The Execution, 1995; Noah Ark, 2006 dan Bystander, 2011)

Pada masa sebelumnya, masa pria ini dilahirkan, lukisan mereplika kenyataan, hanya yang nyata boleh ditampilkan dan harus dinikmati. Minjun ingin benar-benar melepaskan diri dari konsepsi tersebut, lalu mengusulkan serangkaian potret diri yang tersenyum. Tapi kenapa senyum? Pertama-tama, senyum ataupun tawa dalam budaya Cina adalah tanda kebaikan dan penyambutan, di Cina ada tradisi panjang soal senyum.

Ada Buddha Maitreya yang dapat menceritakan masa depan, dan ekspresi wajah Sang Buddha adalah tawa gembira. Biasanya ada sebuah prasasti juga yang mengatakan bahwa orang harus optimis dan tertawa di hadapan realitas, ada juga lukisan-lukisan selama masa Revolusi Kebudayaan, poster-poster bergaya Soviet yang menunjukkan orang-orang yang tertawa, tetapi yang menarik adalah biasanya apa yang dilihat di poster itu adalah kebalikan dari realitas. Oleh karena itu, Minjun ingin membuat parodi, tetapi juga untuk menertawakan diri sendiri dengan mementaskan wajahnya sendiri.

Melukis potret diri juga merupakan cara untuk mengambil alih kekuasaan dan memiliki margin yang lebih besar untuk kebebasan berekspresi. Senyum itu bukan senyum yang tulus dan langsung, tanpa nada tambahan. Senyum itu seperti topeng teater kuno yang dikenakan oleh para aktor. Oleh karena itu kita harus menafsirkan senyum ini sebagai fasad yang menyembunyikan bayangan tak berbatas, tetapi itu juga membantu melestarikan kebebasan berekspresi.

Minjun telah diaku sebagai aset penting gerakan seni Realisme Sinis di Cina waktu itu, seperti pertama kali diungkap oleh kritikus Li Xianting di tahun 90-an. Pelabelan Minjun ke gerakan tersebut oleh sekelompok kritikus dan seniman, karena karyanya dianggap respon terhadap konsekuensi tragis dari demo atau protes intelektual di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989. Hal itu mengakibatkan Minjun pindah ke koloni seniman di Hongmiao, terletak di distrik Chaoyang di pinggiran Beijing.

Di tahun yang sama, Geng Jinay menggelar pameran, seniman Cina yang melukis potret tawa dirinya sendiri ini mempengaruhi karya Minjun. Dan pada tahun 1993, Minjun juga mulai menggunakan gambar diri yang representatif dalam karyanya — memotret dirinya sendiri dalam momen tawa yang beku. Sejak itu, wajah-wajah tawa itu hadir di semua karyanya, menjadi tanda terang dan cap identitas seninya.

Candaan, ironi, ejekan, humor dan kegembiraan melekat pada karya Minjun. Menjadi metodenya melihat dan menentang dunia sekitarnya. Tawa berhasil meringankan tragedi dan rasa sakit, bertindak seperti obat melawan ketidakberdayaan; seperti sang pelindung melawan kekejaman realitas yang meracuni kesucian hidup; sebuah kejelasan dalam khidmat; bertindak membatalkan dorongan ingin berkuasa, seperti pada konsep kehendak kuasa Nietzsche. Tertawa bertindak sebagai penangkal kegelisahan dan kekhawatiran kita, sebagai simbol protes. Tawa adalah alat kuat nan canggih yang dapat merangkul banyak makna.

Pada 1999, Minjun mendapat pengakuan internasional ketika dipilih bersama seniman-seniman lain untuk menjadi bagian dari pertunjukan yang disutradarai oleh Harald Szeemann untuk Venice Biennial ke-48. Minjun menggelar serangkaian patung yang menggambarkan Angkatan Darat Terakota Qin Shihuang, Kaisar Pertama Cina; sering dikenal sebagai prajurit dari Xian, masing-masing prajurit memiliki wajah dan identitas yang berbeda.

Sebenarnya, tentara Terakota Kaisar Qin Shihuang, atau The Warriors of Xi’an, adalah simbol yang mewakili feodalisme. Sekilas, individu-individu (patung) itu benar-benar tenggelam dalam ekspresi tentara. Tentu saja, jika dilihat dengan sangat teliti, masing-masing sculpture memiliki ekspresi yang berbeda; tetapi jika dilihat dari sudut pandang kolektif, citra setiap patung diproyeksikan lebih lemah.

Potret diri yang tertawa diulang-ulang dalam setiap karya yang menggembirakan dan berani. Minjun percaya bahwa menggunakan orang yang sama dan ekspresi yang sama akan menggambarkan hilangnya atau ketiadaan individual secara lebih akurat.

Yue Minjun dianggap sebagai salah satu seniman Cina paling terkenal di zaman kita. Ia dilahirkan di provinsi Heilongjiang pada 1962, letak generasi seniman yang tumbuh di tengah-tengah Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (1966–1976).

Masa Minjun lahir adalah dekade yang ditandai dengan represi dan ketakutan, dengan pendidikan yang didasarkan pada keyakinan dan prinsip yang idealis. Kaum intelektual dikirim ke pedesaan untuk bekerja guna belajar tentang pertanian dan produksi, berkontribusi pada revolusi melalui kerja fisik.

Dengan kematian Mao pada tahun 1976 datang masa reformasi dan secara dramatis mengurangi represi, dan direspon ledakan bentuk seni baru. Minjun muncul di tengah-tengah banyak perubahan sosial, politik dan budaya yang besar, mengikuti bentuk seni yang marak ditentukan oleh kemegahan dan propaganda politik. Tahun 80-an terkenal sebagai — termasuk ’85 New Wave- lonjakan seniman muda yang melepaskan diri dari masa lalu dengan kebebasan berekspresi dan kreativitas yang kuat. Tahun 90-an, pada gilirannya, telah dicirikan oleh munculnya aliran seni Realisme Sinis dan Pop Politis, dan menandai awal munculnya seni Cina secara internasional.

Semangat Minjun mengingatkan kita pada Democritus, filsuf pra-Sokrates, yang dikenal sebagai “filsuf yang tertawa”, baginya tawa adalah alat terbaik yang kita miliki untuk membantu kita menghadapi hidup. Di satu sisi, tawa mewakili penerimaan realitas kita sendiri, dengan demikian melucuti semua keseriusan. Namun, di sisi lain, berfungsi untuk membantu memahami keberadaan kita sendiri.

Tawa bisa menjadi perkawinan yang sempurna dengan perasaan. Jika kita memiliki kapasitas untuk tersenyum di sepanjang kesulitan, maka kehadiran kita akan menjadi lebih kuat, toleran dan beragam, baik untuk budaya artistik dan untuk mayoritas.

Apakah hanya Minjun yang selama ini melihat celah dan keluputan kita semua? Kepanikan dan ketergesaan kata-kata yang sedang dilempar tanpa arah saat ini hanya melanggengkan represi.

*Artikel ini pertama kali terbit di Medium.