Ironi dan Kritik Diri

Bulan Desember 2019 lalu, saya mengunjungi studio Yerie di rumah tinggalnya yang berada di Bantul. Beberapa lukisan yang telah rampung menghias didinding rumahnya. Ada juga beberapa yang masih menantikan sentuhan final. Tulisan ini berangkat dari keinginan untuk mencatat sekilas ihwal kegelisahan Yerie. 

Yerie laki-laki yang berasal dari Singkawang, Kalimantan Barat ini sejak dibangku sekolah dasar (SD) tahun 2004, Yerie sudah gemar menggambar dibuku tulis pelajarannya. Saat kelas 4 SD ia pernah ikut lomba menggambar dan mendapat juara 2. Tahun 2015, Yerie secara resmi masuk dalam barisan mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa serta aktif berpameran bersama didalam kota maupun luar kota Yogyakarta hingga saat ini. 

Suasana umum karya-karya lukis Yerie adalah refleksi, sosok burung Enggang Gading mendominasi harmonis di kanvas menggunakan media talek, cat akrilik, cat semprot, konte bubuk dan sebagainya. Burung Enggang Gading satwa yang mempunyai bentuk unik. Masyarakat suku Dayak tertentu, dalam kultur tradisinya tidak pernah terlepas dari aspek fungsi bersifat substansial, terdapat banyak artefak berbentuk burung Enggang, yang masih memiliki nilai historis dan makna filosofis pada tradisi kesenian Dayak, ada seni ukir kayu, motif anyaman, busana adat yang menunjukan suatu identitas kebudayaan. 

Seperti dalam kehidupan itu sendiri, siapa yang kuat itulah yang mampu bertahan hidup. Rutter, Owen dalam Sejarah Kalimantan mengatakan itulah hukum rimba, dan perjuangan hidup banyak terjadi di hutan. Hari demi hari, tahun demi tahun, setiap hewan yang lahir dan tumbuh, pasti berjuang karena banyaknya macam-macam satwa. Ditambah pula manusia serakah yang memburunya sehingga mengakibatkan kini keberadaannya semakin langka. 

Sosok-sosok burung Enggang dalam lukisan Yerie rata-rata tidak sendiri, burung tersebut ditemani kerangka (lihat karya berjudul “Hot Sale”), hutan dan pegunungan (lihat karya berjudul “Harmoni”), tengkorak (lihat karya berjudul “Enemy”), ukiran kayu pantak (lihat karya berjudul “Hutan dan Pohon”), burung Enggang yang mengepakkan sayap (lihat karya berjudul “Today”), ada juga yang divisualisasikan dalam bentuk kapal (lihat karya berjudul “Perjalanan”) .

Judul: Enem, Ukuran: 120 x 100 cm Mix media di atas kanvas Tahun 2019 (Dokumen Yerie Yulanda, 2019)
Judul Hot Sale, Ukuran: 120 x 100 cm Mix media di atas kanvas Tahun 2019 (Dokumen Yerie Yulanda, 2019)
Judul: Today, Ukuran: 120 x 100 cm Mix media diatas kanvas Tahun 2019 (Dokumen Yerie Yulanda, 2019)
Judul: Perjalanan Ukuran: 120 x 100 cm Mix media diatas kanvas Tahun 2019 (Dokumen Yerie Yulanda, 2019)

Acap kali, mereka dilengkapi oleh tekstur dan warna yang menjadi latar belakang dan teknik lukisan Yerie sebagai bentuk ekspresi dalam eksperimennya. Saya melihat Yeri menggarap pokok persoalan lukisannya ini dengan ironi. Burung Enggang yang dihadirkan selalu muncul dengan iringan rasa kegelisahannya terhadap fenomena burung yang keberadaannya telah langka. 

Kondisi lingkungan hutan kami di Borneo yang tidak lagi serindang dulu karena adanyaa peristiwa kebakaran hutan yang disengaja atau tidak disengaja, hal ini selaras dengan apa yang dikatakan Yerie “tidak hanya melihat burung Enggang Gading sebagai burung khas Kalimantan saja, namun mencoba membawa nilai estetika melalui eksplorasi keindahan visual, nilai filosofi , dan fenomena alam serta budaya saat ini”. 

Ditambah pula, hegemoni manusia yang semakin menjadi-jadi memburu flora dan fauna secara ilegal. Serta pemindahan ibu kota Indonesia ke tanah Borneo yang akan menambahnya dampak dan persoalan pada hutan kami. Dalam wujud enam karya lukis inilah bentuk rasa kerinduan dan kepedulian Yerie terhadap tanah kelahirannya, satwa, serta lingkungannya. Kiranya lewat lukisan-lukisan Yerie kita dapat berefleksi diri. Untuk Yerie, selamat menapaki proses pembelajaran seni yang nyata. [ ]

Sumber:

  • Rutter, Owen, 2017. Sejarah Kalimantan. Yogyakarta: Penerbit Indoliterasi Wawancara dengan Yerie pada 08/01/2020