Fundamentalisme Fashion?

muslim fashion
Foto: Deezen

Ada sebuah pernyataan setengah bercanda dilontarkan oleh seorang dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernyataan itu adalah bahwa orang Islam akan lebih islami justru pada saat dia lupa kalau dia beragama Islam. Berkali­kali saya diingatkan untuk tidak mempersoalkan pernyataan itu, karena toh itu sekedar “joke”. Tetapi, saya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, apa yang dimaksud dengan islami, dan apakah islami itu penting buat orang Islam? Ini bukan pertanyaan filosofis atau epistemis, tetapi lebih karena saya menduga bahwa pernyataan setengah bercanda tersebut bertolak dari asumsi umum sebagaimana tampak dalam ungkapan Jawa “ajining rogo soko busono”, yang diadopsi menjadi “ajining wong Islam soko Islamine”; “Islami” dalam konteks ini ekuivalen dengan busana.

Dugaan saya itu bukannya tak berdasar. Sebab, secara tidak terduga orang sering dengan cepat membuat kategorisasi antara ‘islami’ dan ‘bukan islami’, serta ‘fundamentalis’ dan ‘bukan fundamentalis’ atas dasar penampilan fisik. Misalnya, memanjangkan jenggot, berbaju gamis (jubah untuk laki-laki), bercelana panjang di atas mata kaki, tanda hitam di dahi, dianggap indikator penting laki-laki Muslim fundamentalis. Sedangkan kaum perempuan Muslim fundamentalis antara lain dicirikan dengan mengenakan kerudung ukuran minimal 1,5 x 1,5 m, tidak memakai celana atau kulot, mengenakan baju panjang yang tidak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh, berkaos kaki, ada juga yang berkaos tangan, dan bercadar rapat. Dengan kata lain, apa yang disebut fundamentalisme telah direduksi ke dalam fashion.

Tampaknya fashion merupakan contoh bagaimana sebuah barang diproduksi untuk dipertontonkan, dan bagaimana imaji yang menyertainya dikonsumsi oleh masyarakat. Jubah, gamis, kerudung besar yang diklaim sebagai baju islami, menutup aurat, berpakaian yang tidak memper­lihatkan lekuk-lekuk tubuh, pada akhirnya menjadi simbol yang dimaknai sebagai ikon untuk menentang pola hidup modem.

Dalam esai ini saya tidak ingin melacak latar belakang sosio historis ikon-ikon yang dilekatkan pada ‘fundamentalisme’ Islam tersebut. Bagi saya, hal yang lebih menarik untuk didiskusikan adalah proses seseorang menjadi konsumen ikon-ikon semacam itu. Dalam pengamatan saya, kebanyakan orang masuk ke dalam komunitas ‘fundamentalis’ lebih karena tarikan lingkungan sosial terdekatnya. Jadi, ketika simbol-simbol itu dihadirkan pada pengikut potensial, di situ sekaligus dihadirkan pula makna-makna yang menyertainya. Ibarat orang makan, itu mirip dengan orang lapar yang makan di restoran cepat saji. Semua tinggal dikonsumsi, tanpa pengolahan. (Ini bukan berarti bahwa pemaknaan secara individual tidak ada). Dalam konteks inilah akan sangat menarik jika semiotika dipakai sebagai pendekatan untuk memahami bagaimana tanda menyampaikan makna dalam kehidupan sehari­hari, bagaimana simbol yang dilekatkan pada ‘fundamentalisme’ dimaknai tidak sekedar dalam kaitannya dengan agama, tetapi juga dengan latar sosialnya.

Semiotika menunjukkan bahwa konteks yang memproduksi makna lebih dari sekedar realitas yang tampak secara kasat mata. Ini merupakan analisa yang melibatkan banyak perspektif untuk menggali pertautan antara tanda dengan masyarakat. Roland Barthes, yang juga disetujui Hebdige (1979), mengatakan:

“Semiotic promised nothing less than reconciliation of the two conflicting definitions of culture upon which Cultural Studies was so ambiguously posited – a marriage of moral conviction (in this case, Barthes’ Marxist beliefs) and popular theme: the study of a society’s total way of life”.

Masalahnya, atribut yang dilekatkan pada pada fundamentalisme tidak dipahami sebagai penampakan semata, tetapi lebih jauh sebagai mitos yang menaturalisasikan berbagai perbedaan budaya pemakainya, yang lalu membuatnya (seakan-akan)universal, dan setara dengan norma yang akhirnya secara dramatis ‘mengungkung’ pemakainya. Dalam pemakaian kerudung besar, jubah, cadar atau gamis, misalnya, kendati masing-masing atribut secara khusus tidak berkaitan etnis atau bangsa tertentu, reproduksi pemaknaannya selalu disandarkan pada kultur Arab, dan secara langsung diisyaratkan sebagai berhubungan erat dengan Islam dan  sendirinya mulia. Tampak disini ada upaya mengalamiah-alamiahkan hubungan antar tanda yang sebenarnya bersifat arbitrer.

Dari pengalamiahan hubungan antar tanda semacam itulah muncul mitos; dan mitos menggeneralisasikan pengalaman demi suatu ‘konsensus’ tentang bagaimana kita menangkap realitas (Barthes, 1973). Dalam perspektif inilah, atribut-atribut yang (dianggap) islami –kini ‘islami’ bertindak sebagai mitos- menghasilkan realitas yang (dianggap) tidak islami. Perempuan Muslim yang tidak memakai kerudung, misalnya, diidentifikasikan sebagai tidak islami, kebarat-baratan, jahiliah, dan berbagai pelabelan lain yang dianggap sebagai anteseden dari yang ‘islami’.

Atribut islami yang sekarang menjadi milik kaum ‘fundamentalis’ paling tidak telah mengalami dua proses pemaknaan. Pertama, bagaimana atribut-atribut seperti kerudung besar, cadar, gamis, jubah, memanjangkan jenggot, dilekatkan pada fundamentalisme. Kedua, bagaimana hal itu kemudian dikait-kaitkan dengan kekerasan, anti dialog, fanatisme, ekstremisme, dan sebagainya. Jelas bahwa pengkait-kaitan yang disebut belakangan ini pun, dalam banyak hal, arbitrer, dan berada di luar praktik fashion tersebut. Hal ini justru membuat kaum ‘fundamentalis’ semakin yakin akan pandangan negatif mereka terhadap dunia yang tidak seperti mereka. Sebab, begitu pengkait-kaitan yang arbitrer itu diterima sebagai kebenaran, dari situlah muncul mitos lain, yang malah membuat kaum ‘fundamentalis’ semakin yakin dengan klaim-klaim kategori moral yang mereka bangun.[]

Sumber:

  • Hebidge, Dick. 1979. Subculture: The Meaning of Style. London & New York: Routledge.
  • Barthes, Roland. 1973. On Mythologies. London: Paladin Press.

*Artikel ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, edisi April 2005.