Bunyi dalam Sunyi Pantomim Wanggi Hoediyatno

pantomim wanggi
Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari | Kumparan

Mencermati sejumlah perkembangan yang ada di dalam seni pantomim, belakangan ini, beberapa hal dapat diketengahkan sebagai pintu masuk pembahasan. Sebagaimana sebuah lakon yang ditampilkan oleh Wanggi bersama Indonesian Mime Artist Association dan beberapa komunitas lain se-Bandung Raya, menggelar aksi mengingatkan pentingnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) Babakan Siliwangi. Aksi yang terdiri dari komunitas pantomim, musik, teater, dan tari tersebut menunjukkan kreatifitasnya masing-masing sesuai tema yang diusung dan tidak ada orasi-orasi karena pada setiap aksi akan merefleksikan fenomena salah satu ruang terbuka hijau yang terancam oleh maraknya pembangunan di Bandung.

Setiap pantomim yang tampil dalam aksi tersebut menyajikan ekspresi wajah yang berkerut. Ekspresi wajah itu menurut Wanggi melambangkan individu yang bertarung dengan ancaman terhadap hutan kota Babakan Siliwangi (Alam, 2018). Dalam peringatan Hari Gizi Nasional 2012, Wanggi sindir isu tentang busung lapar karena kekurangan gizi lewat pertunjukan pantomim berjudul “Sehat Itu Milik Siapa?”. Dia ingin mengingatkan masyarakat soal pentingnya gizi bagi anak.

Pantomim yang hadir membawa narasi kemanusiaan dalam aksi-aksi tertentu tidak bisa dianggap remeh, terlebih hingga mengancam nyawa. Sebagaimana peristiwa aksi tentang isu gender dan demokrasi yang terjadi pada 19 Oktober 2019 di Chile. Seorang perempuan pemain pantomim jalanan berusia 36 tahun ditangkap pada sebuah protes dan dibawa pergi oleh anggota kepolisian Carabineros. Keesokan harinya, tubuhnya yang tak bernyawa ditemukan tergantung di pagar taman dengan tanda-tanda pemerkosaan dan penyiksaan. Namanya adalah Daniela Carrasco, yang dikenal oleh orang-orang yang mengenalnya sebagai La Mimo (Mime). Hal yang senada berupa interogasi dari pihak kepolisian kerap dialami Wanggi setiap aksi pantomim yang dilakukannya.

Pada dasarnya menonton suatu seni pertunjukan pantomim dapat meringankan kerja pikiran dan perasaan kita daripada sekadar membaca teks-teks pemikiran filsafat manusia yang melahirkan narasi tentang ide-ide kemanusiaan. Namun, apakah kita dapat sepenuhnya menyerap atau berkomunikasi dengan seni pantomim itu adalah soal lain, karena tergantung kepekaan kita sebagai penonton dalam menangkap ide-ide yang ditawarkan dan simbol-simbol yang hadir secara visual-audio di dalam seni pantomim tersebut.

Barangkali jika dirasa perlu, bolehlah kita terlebih dahulu melakukan pembacaan teks-teks yang memuat ide-ide kemanusiaan sebelum menyaksikan pertunjukan pantomim sehingga kita akan mampu mengetahui seberapa jauh intensitas pantomimer Wanggi terhadap keberhasilan pertunjukannya. Hal ini penting sebab siapa lagi yang harus memperhatikan nasib seni pantomim selain pihak-pihak yang berkecimpung dengan dunia seni pertunjukan.

Bahasa sebagai sistem tanda dipergunakan dalam bentuk-bentuk teater kecuali pantomim dan balet. Sedangkan Siegel (2009) menyebut bahwa berbahasa itu adalah lingua franca. Namun Wanggi mencoba berbahasa lewat pantomim sebagai berikut:

“Pantomim itu seni bahasa tubuh yang sunyi berbahasa universal, ada sebuah pesan yang tersembunyi dari tiap gerak dan imajinasi dalam kecepatan dan tempo tertentu, bukan sekadar lucu-lucuan. Pantomim itu bahasa perdamaian, bahasa untuk semua manusia yang hidup di bumi ini.”

Di sisi lain, simbol yang dipresentasikan dalam pertunjukan pantomim sama sekali tidak signifikan sehingga bersifat ambigu. Bahkan kemungkinan terburuk yang terjadi apabila pantomimer gagal menyusun sistem tanda maka pertunjukan itu sendiri tidak akan dipahami oleh penonton. Penonton akhirnya dituntut untuk melakukan spekulasi terhadap pencarian makna-makna yang ditampilkan. Terlepas dari kesulitan-kesulitan mencari arti adegan pantomim, setidaknya terlihat bahwa bahasa tubuh menjadi sistem tanda dan produksi makna.

Sejumlah tanda-tanda yang berada dalam seni pantomim perlu disusun sedemikian rupa, sehingga menolong menciptakan makna. Seni pertunjukan senantiasa berpijak pada daya imajinatif si pelaku seni. Oleh karena itu, daya imajinatif subjektif ini direpresentasikan dengan sistem tanda. Dalam pantomim, daya imajinatif itu tampak melalui ekspresi, mimik, gerak, gesture, kostum, make-up, iringan musik, properti, tata lampu, artistik panggung dan lain-lain (Sahid, 2004).

Dibandingkan dengan sistem tanda rambut dan make-up, kostum termasuk sistem tanda cukup penting. Meskipun kostum dapat diganti dengan cepat saat perpindahan adegan namun peran kostum lebih dominan. Hal ini karena kostum yang dipakai aktor lebih mudah dipersepsi oleh penonton. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Rudolf Mrazek (2006) mengatakan bahwa para pekerja pribumi ingin pakaian mereka cocok masuk ke ruang dan sesuai dengan tatanan zaman modern sekaligus melindungi tubuh mereka yang akan telanjang apabila tidak berpakaian. Sejalan dengan hal ini maka tidaklah mengherankan apabila identifikasi awal dari penonton terhadap sebuah pertunjukan biasanya bermula dari kostum. Sebab kostum merupakan pakaian yang bersumber pada fungsi-funsi kehidupan sosial. Misalnya kostum dipilih untuk menlambangkan identitas seperti dokter, polisi, pelayan dan sebagainya.

Dengan begitu seorang aktor melalui kemampuan aktingnya berkontribusi penting terhadap mengantarkan ke proses pemaknaan, sekalipun sifat dan jenis gesture telah (dikondisi, dikodifikasi, dimodifikasi) oleh konvensi-konvensi seni pertunjukan pantomim.[]

Sumber:

  • Mrazek, R. 2006. Engineers of Happy Land: Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni. Jakarta: Yayasan Obor.
  • Sahid, N. 2004. Semiotika Teater. Yogyakarta: ISI Yogyakarta.
  • James T. Siegel. 2009. Berbahasa dalam Sadur, Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Henri Chambert Loir (ed.), Jakarta: K.P. Gramedia, Ecole Francaise d’Extreme-Orient, Forum Jakarta-Paris, Pusat Bahasa, Universitas Pajajaran,