Berdakwah Lewat Pantomim, Manifestasi Spiritualitas Islam

Muslim pantomim
Foto: pennyappeal.org

Beberapa bulan yang lalu, saya kedatangan teman lama yang berkunjung ke kontrakan, kami sempat berdiskusi mengenai kebuntuan yang saya alami dan rencana proses penciptaan karya seni pertunjukan yang sedang saya persiapkan. Dia memperlihatkan koleksi foto hasil pengamatannya tentang ibadah Shalat Jumat di Masjid UIN Sunan Kalijaga. Sebuah peristiwa praktik khotbah Jumat dengan menghadirkan seorang khatib (pendakwah) utama bertugas menyampaikan materi dakwah dan seorang yang bertanggung jawab menerjemahkan isi dakwah ke dalam bahasa isyarat.

Gambaran peristiwa tersebut menjadi referensi saya dalam proses kreatif. Data lain yang saya peroleh ialah penelitian yang dilakukan oleh Arif Maftuhin berjudul Aksesibilitas Ibadah Bagi Difabel: Studi atas Empat Masjid di Yogyakarta (2014). Penelitian ini mengamati empat masjid (Masjid UIN Sunan Kalijaga, Masjid UGM, Masjid Syuhada, dan Masjid Kauman) dalam penyediaan fasilitas infrastruktur bagi penyandang disabilitas untuk beribadah.      

Peristiwa penggunaan bahasa isyarat dalam khotbah Jumat tersebut telah memberi kesan tertentu bagi saya karena mengingatkan pada seni pertunjukan pantomim. Meski hal tersebut bukanlah pantomim melainkan gerakan isyarat untuk memfasilitasi penyandang disabilitas dalam praktik Shalat Jumat. Fenomena ini menarik untuk diteliti, beriringan dengan timbulnya pertanyaan-pertanyaan mengenai apa-apa saja yang melatarbelakanginya. Saya menemukan kenyataan-kenyataan bahwa terdapat kebaruan dalam upaya manifestasi spiritualitas Islam.

Berkaitan dengan pengalaman di atas menuntun saya pada fenomena yang terjadi di Barat untuk dapat ditengahkan sebagai pintu masuk pembahasan. Dalam upaya mencermati sejumlah perkembangan yang ada di dalam seni pantomim. Belakangan ini, terdapat upaya dakwah Islam di Inggris lewat pantomim yang dilakukan oleh Anisa Kissoon dengan kelompoknya bernama The Great Muslim Pantomime sebagai pantomim Muslim pertama di dunia. Kelompok ini kerap melakukan tour ke beberapa kota dan tampil dalam perayaan festival di Inggris.

Mereka mengusung cerita-cerita dalam sejarah Islam abad pertengahan seperti tokoh Ibn Sina yang dikenal dengan penemuan obat di bidang kedokteran. Para pemain di kelompok ini ingin menunjukkan bahwa Muslim dapat berintegrasi ke dalam masyarakat Inggris. Mereka berharap pertunjukannya akan menarik bagi semua orang, terlepas dari agama dan budaya. Menurut pengakuannya Anisa Kissoon, “pantomim adalah tradisi Inggris dan menyumbang untuk amal adalah pilar Islam yang indah, jadi cara apa yang lebih baik untuk menyatukan keduanya daripada memiliki pantomim Muslim untuk amal?” Sebab hasil dari pertunjukan The Great Muslim Pantomime akan digunakan untuk membantu menjaga saudara dan saudari kita yang kurang beruntung agar tetap aman dan hangat di musim dingin ini.

Pantomim sederhananya ialah seni mengandalkan bahasa tubuh. Istilah pantomim menurut Bakdi Soemanto (dalam Iswantara, 2007:1) berasal dari Yunani yang artinya ‘serba isyarat’. Berarti secara etimologis, pertunjukan pantomim yang dikenal sampai sekarang itu adalah sebuah pertunjukan yang tidak menggunakan bahasa verbal. Pertunjukan itu bahkan bisa sepenuhnya tanpa suara apa-apa dan dengan kata lain pantomim ialah pertunjukan bisu. Lebih jauh Aristoteles dalam karyanya Poetics, (dalam Iswantara, 2007:7) mengatakan bahwa pantomim sudah dikenali di Mesir, India, baru kemudian di Yunani dan Romawi. Pantomim telah memiliki sejarah tersendiri dan erat kaitannya dengan nuansa religius berkisah tentang mitologi.

Berkaca dari fenomena di atas, setidaknya timbul pertanyaan bagi saya, apakah pantomim yang mengemban nilai-nilai keislaman mampu menciptakan sebuah perubahan? Kemudian bagaimana pertunjukan pantomim dapat mengurangi citra buruk tentang Islam (islamophobia) di Barat?

Sebuah karya seni penting dipandang sebagai suatu objek yang harus dipahami secara ilmiah. Sementara keberhasilan dan kelemahan suatu karya seni tercermin dalam sebuah kritik. Di sisi lain karya seni hadir diperuntukkan kepada sebagian anggota masyarakat tertentu saja yang kebetulan berminat sama dan berselera sejenis.

Dalam hal ini, saya ingin berpendapat bahwa bukan hanya proses kreatif The Great Muslim Pantomime yang sekiranya patut diapresiasi, namun penggunaan seni pantomim sebagai media dakwah merupakan fenomena yang tak kalah penting untuk disikapi sebagai pengetahuan. Saya berpendapat bahwa penggunaan bahasa isyarat sebagai media dakwah untuk jemaah difabel layak untuk dikaji dan diteliti lebih jauh sebab terkandung unsur seni di dalamnya. Namun tulisan ini akan difokuskan pada pengamatan penulis terhadap perkembangan seni pantomim ini serta kaitannya terhadap agama dan hibriditas budaya, kiranya bisa membantu menjawab tema di atas.

Dimensi Spiritualitas Islam dalam  The Great Muslim Pantomime

Untuk mengungkap titik-titik perpaduan antara seni dan agama. Merujuk pada dua peristiwa yang dipaparkan sebelumnya terkait penggunaan bahasa isyarat dalam khotbah jumat dan berdakwah lewat seni pantomim. Saya berpendapat bahwa keduanya mengandung dimensi spiritualitas Islam dan melibatkan unsur kesenian tanpa mengesampingkan sisi rasionalitas sehingga telah menjadi suatu pengalaman spiritual yang bermakna.

Terdapat banyak pakar dan peneliti yang memberikan terminologi terhadap spiritualitas (Novitasari, 2017). Tetapi secara sederhana dalam penelitian ini dapat dipahami bahwa spiritualitas sebagai upaya bagaimana seseorang memiliki kesadaran menjalin kedekatan kepada Tuhan dan berusaha mengimplementasikannya pada kehidupan sehari-hari melalui berbagai cara, misalnya dalam menjalankan ritual keagamaan.

Victor Turner mendefinisikan ritual sebagai perilaku formal teratur untuk peristiwa-peristiwa selain rutinitas teknologi, yang terkait dengan kepercayaan pada hal-hal atau kekuatan yang immaterial yang dianggap sebagai asal dan akhir sesuatu. Kita hidup dalam ritual keagamaan melalui peristiwa-peristiwa, atau melalui sejumlah bingkai dan simbolnya, mengikuti perkataan dan perbuatan nabi dan para ulama, atau apabila tidak ada maka mengikuti mitos dan epik yang sakral (Turner, 2011).

Agama seperti halnya seni, dapat hidup sepanjang “dipertunjukkan”, yaitu sepanjang ritualnya “dipertahankan”. Istilah pertunjukan berasal dari bahasa Inggris Kuno yaitu parfournir yang artinya memberikan dengan utuh dan dengan teliti (ibid.). Pengalaman seseorang dalam sebuah ‘pertunjukan ritual’ sering kali meyakinkan para pelaku pertunjukan bahwa situasi ritual memang memberi kekuatan yang sifatnya transendental dan abadi. Hal ini berlaku pula bagi orang-orang yang hadir dalam peristiwa tersebut. Scott Kugle menunjukkan bagaimana pandangan tentang tubuh dan pikiran dalam konteks tasawuf. Dalam tradisi sufi, tubuh berfungsi sebagai cermin kosmos dan lokus manifestasi Ilahi. Mereka melantunkan puisi, suka musik dan menari Whirling Dervishes, semuanya menuju satu tujuan yakni penyatuan dengan Tuhan (ibid.).

Dalam budaya agraris dan kesukuan atau bahkan dalam budaya-budaya kekinian yang relatif kompleks, potensi inovatif tampaknya memungkinkan munculnya pertunjukan seni yang tak terduga sebelumnya. Kenyataan yang dilakukan The Great Muslim Pantomime mengingatkan kepada kita betapa menyebarnya peran seni pantomim dalam memberi corak budaya keagamaan. Seni sebagai arena yang bebas nilai memang tidak diperuntukkan bagi kalangan tertentu atau agama manapun.

Di sisi lain, kelompok ini dengan membawa label identitas Muslim di dalamnya secara tidak langsung memberikan informasi awal kepada publik sebuah wajah Islam yang menggembirakan. Posisi Anisa Kisson sebagai pelaku seni beserta kelompoknya sudah tidak lagi netral, artinya dia secara tidak langsung menyampaikan keterangan seni pantomim ini dilakukan oleh orang Muslim walaupun ditujukan kepada khalayak umum. Disini terlihat bahwa ada permainan ‘makna’ yang melibatkan tatanan nilai-nilai agama dan budaya secara simultan menjadi sebuah pengalaman diasporik. Mereka dapat mengekspresikan identitas Muslim yang muncul ini untuk secara eksplisit memasukkan praktek-praktek nilai spriritualitas Islam dalam kombinasi dengan bentuk seni budaya populer seperti pantomim.

Chris Allen (2012) dalam tulisannya A review of the evidence relating to the representation of Muslims and Islam in the British media, memaparkan data statistik berkaitan dengan representasi Muslim dan Islam di media Inggris. Penelitian dari tahun 2007 menetapkan bahwa konsekuensi dampak dari jenis liputan di media membentuk perihal islamofobia, di antaranya:

  • Kemungkinan untuk memprovokasi dan meningkatkan perasaan tidak aman, kecurigaan dan kecemasan di kalangan non-Muslim.
  • Kemungkinan memprovokasi perasaan tidak aman, kerentanan dan keterasingan di antara umat Islam, dan dengan cara ini melemahkan langkah-langkah Pemerintah untuk mengurangi dan mencegah ekstremisme.
  • Tidak mungkin membantu mengurangi tingkat kejahatan rasial dan tindakan diskriminasi yang melanggar hukum oleh non-Muslim terhadap Muslim.
  • Kemungkinan menjadi penghalang utama yang mencegah kesuksesan kebijakan dan program kohesi komunitas-Pemerintah.
  • Tidak mungkin berkontribusi pada diskusi dan debat yang terinformasi di antara Muslim dan non-Muslim tentang cara-cara bekerja bersama untuk mempertahankan dan mengembangkan Inggris sebagai negara multikultural, demokrasi multi-agama.

Menurut hemat saya, apa yang dilakukan oleh Anisa Kissoon dengan berdakwah lewat pantomim ini adalah salah satu bentuk dari upaya-upaya guna mengurangi citra buruk tentang Islam oleh pemberitaan media. Seni sebagai media dakwah ditengarai mampu mengembangkan dan melahirkan arus moderatisme dan liberalisme Islam dalam kehidupan modern yang religius. Karena telah nyata terbukti, bahwa sikap fundamentalisme justru menelorkan aksi-aksi teror. Hal yang senada tampak dalam bentuk seni pertunjukan lain seperti munculnya British Muslim Comedian. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Abdul-Azim Ahmed  (2013) bertajuk Faith in comedy: Representations of Muslim identity in British comedy, sebuah upaya para komedian muslim di Inggris. Mereka menyajikan gagasan identitas Muslim yang lebih bernuansa.   

Penutup

Pantomim sebagai sebuah kenyataan yang tidak berdiri sendiri melainkan merupakan akibat dari berbagai faktor, maka penjelasan tentang pantomim tidak dapat diberikan hanya dari satu sudut pertimbangan saja seperti pertimbangan segi keindahan semata, tetapi juga melibatkan sudut pertimbangan historis, sosiologis dan faktor-faktor pendukung lain.

Satu hal yang barangkali cukup jelas yaitu adanya etos pada orang bersangkutan tentang kaitan suatu tindakan berkesenian dengan pandangan hidupnya terhadap upaya implementasi nilai-nilai spiritualitas Islam. Dengan kata lain, hal yang dilakukan kelompok seni The Great Muslim Pantomime dan penggunaan bahasa isyarat dalam khotbah, agaknya akan sulit terjadi jika itu tidak bertitik-tolak dari keimanan.[]

Sumber:

  • Ahmed, A.-A., (2013), Faith in comedy: Representations of Muslim identity in British comedy, Journal South Asian Popular Culture, 11:1, h, 91-96.
  • Allen, C., A review of the evidence relating to the representation of Muslims and Islam in the British media, (Birmingham: Institute of Applied Social Studies School of Social Policy, 2012).
  • Iswantara, N., diktat perkuliahan kritik teater I (Yogyakarta: ISI Yogyakarta, 2008).
  • Novitasari, Y., “Kompetensi Spiritualitas Mahasiswa”, Journal of Multicultural Studies in Guidance and Conseling, Vol. 1, No. 1, 2017.
  • Turner, V., Dari Ritual Ke Teater (From Ritual to Theatre), terj. St. Hanggar Budi Prasetya, (Yogyakarta: DIPA ISI Yogyakarta, 2011).