Banting Setir Lagi, Beriman!

ulasan Hans Kung

Judul buku: Theology for the Third Milenium: An Ecumenical View
Penulis: Hans Kung
Penerbit: Anchor Book, London/New York, 1988
Tebal hal: 316

Agama kembali diperbincangkan dengan energi penuh. Adakah hal ini dipengaruhi oleh gerakan post-modernism yang mulai mekar sejak tahun 1950-an,  dan menggetarkan seluruh dimensi positif yang diterima masyarakat modern? Seperti kita ketahui, ekspresi kritis pencerahan yang telah berlangsung sejak abad ke 17 secara eksplosif membangun kesadaran pengetahuan dan filsafat baru terhadap rasionalisme. Tapi sejak empat dekade lalu, hal ini mengalami krisis kembali.  Krisis itulah yang  menyebabkan rasionalisme absolut  kehilangan martabat dalam menatap sejarah. Banyak ilmuwan menyebutnya dengan era posmo, era dekonstruksi. Era yang kita bisa rasakan getar-getar protesnya tapi kita belum cukup   komprehensif memaknainya.

Bagi Hans Kung, filosof teologi asal Jerman, kata-kata posmo memang menggelitik. Bukan saja kata-kata ini menjadi  sangat luas dipahami,  seperti kata “modern” ala Copernicus dan Descartes terhadap basis demarkasi berbeda dari era antik akhir, namun juga perlu gagasan yang betul-betul kuat dan sophisticated dari cara pandang era sebelumnya Kung lebih senang dengan istilah pasca pencerahan (post-enlightment), khususnya dalam melihat fenomena agama, dan sisi ekumenisnya. Peluang eksplorasi, iman diharapkan dapat memberi, semangat baru dalam melihat  peran agama, dan kerja sama antar iman sebagai upaya mempertahankan “sejarah Tuhan”.

Dalam buku Theology for the Third Milenium, Kung kembal mempertajam fungsi  positif  agama  di era posmo. Keyakinannya muncul karena banyak segi dari “daya cekam” agama yang secara historis pernah diterima manusia, sebenarnya dapat diorientasikan menjadi prinsip beriman baru dengan kembali ke kitab suci, (Bibel). Kesadaran kembali ke kitab suci dapat mencegah kesewenang-wenangan dogma agama Perbincangan ini secara panjang lebar disebutkannya dalam  sub bab IV bagian A. Classical Conflict, Dogma versus the Bible.

Tujuan tersebut sebenarnya adalah berlari pada penguatan tafsiran yang lebih otentik tentang apa yang dimaksud dengan beragama secara Kristen (ia adalah teolog Katolik ). Lebih lanjut ia menyertakan bab tersendiri dalam buku ini ( sub bab IV bagian Future Perspectives, Theology on the way to a new paradigm· reflection on my carrer) tentang munculnya paradigma teologi baru berdasarkan pengalaman pribadinya. Refleksinya yang sangat “liberal” tersebut telah menyebabkan ia dipurnatugaskan dari kewajiban mengajar di Tubingen , sekolah Teologi yang sangat terkenal di Jerman oleh Vatikan. Tapi pencarian ini tidak mati rasa, karena dapat menjadi refleksi kritis yang dapat digunakan oleh penjelajah dogma agama lain untuk membangun basis tafsir agama yang lebih liberal, tapi juga merujuk pada teks-teks dogma yang ada dan dibenarkan.

Buku yang cukup tebal ini dibagi pola narasinya dengan empat bagian: A. Classical Conflict, B Future Perspectives,C. A New Departure Toward a Theology of the World Religions, D. Karl Bath and the Postmodern Paradigm.

Kesimpulan yang baik dari Hans Kung adalah tidak ada alasan bagi umat manusia untuk menafikan potensi iman dari agama. Karena Misteri Tuhan sebenarnya belum mati, dan harus terus dicari dengan melakukan kritik terhadap “pembenaran” yang selama ini keliru tentang agama.[]

*Ulasan ini pertama kali terbit di Buletin Nadheer versi cetak, edisi Mei 2002.